Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Ditutup Melejit, Saham Microsoft Cetak Rekor Baru

Wall Street berakhir menguat terdorong saham-saham teknologi, termasuk saham Microsoft yang menembus rekor baru.
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat./Bloomberg
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York melenggang ke zona hijau pada akhir perdagangan Selasa (7/11/2023) waktu setempat, dengan reli saham-saham di sektor teknologi.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (8/11/2023), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,17% atau 56,74 poin ke 34.152,60, S&P 500 menanjak 0,28% atau 12,40 poin ke 4.378,38, dan Nasdaq menguat 0,90% atau 121,08 poin ke 13.639,86.

Setelah serangkaian gerak fluktuatif dalam satu jam pertama perdagangan, S&P 500 akhirnya terdorong lebih tinggi, naik selama tujuh hari berturut-turut dan mendekati angka penting 4,400. Nasdaq 100 naik hampir 1%, dengan saham Microsoft Corp. menguat ke rekor harga tertinggi baru. 

Tercatat, saham Microsoft naik 1,1% menjadi ditutup di level U$360,53. Saham raksasa teknologi ini melampaui rekor harga US$359,49, yang sebelumnya disentuh pada Juli 2023. 

Taruhan pasar pada fokus The Fed tahun depan menyebabkan suku bunga obligasi AS turun tajam, dengan imbal hasil (yield) tenor 10 tahun turun di bawah 4,6%.

“Pasar saham global bersiap untuk reli dua digit pada tahun 2024 jika The Fed mengubah kebijakan moneternya dan memungkinkan perekonomian menghindari resesi,” menurut tim analis HSBC Holdings Plc, mengutip Bloomberg.

Menurut kepala strategi investasi di CFRA dan penulis “The Seven Rules of Wall Street,” Sam Stovall, S&P 500 naik rata-rata 13% dalam sembilan bulan setelah kenaikan suku bunga terakhir dalam tiga dekade terakhir.

“Pergerakan pasar saham baru-baru ini konsisten dengan pandangan kami bahwa pesimisme investor telah berlebihan. Meskipun kami terus melihat hambatan jangka pendek untuk saham, kami yakin kondisinya sudah siap untuk menghasilkan keuntungan total yang positif selama enam hingga 12 bulan ke depan,” kata Solita Marcelli, kepala investasi Amerika di UBS Global Wealth Management.

Lauren Goodwin dari New York Life Investments, mengatakan The Fed mungkin akan berhenti menaikkan suku bunga, namun dia khawatir bahwa bantuan yang investor lihat di pasar hanyalah perhentian menuju resesi.

Pasar saham AS menguat bahkan setelah beberapa pejabat bank sentral menekankan bahwa menurunkan inflasi sepenuhnya ke target 2% adalah fokus utama mereka. Presiden Fed Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan para pengambil kebijakan belum memenangkan perjuangan melawan inflasi dan mereka akan mempertimbangkan pengetatan lebih lanjut jika diperlukan. Rekannya dari Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan para pejabat The Fed tidak ingin mengambil keputusan ‘pra-komitmen’ mengenai suku bunga.

Beberapa pengambil kebijakan bank sentral AS yang lebih hawkish mengisyaratkan bahwa pengetatan kumulatif kondisi keuangan sejak bulan Juli 2023, dengan imbal hasil obligasi AS tenor 10-tahun naik lebih dari 100 basis poin, dapat berdampak buruk pada perekonomian, meskipun mereka menginginkan lebih banyak waktu untuk melakukannya.

Gubernur Fed Christopher Waller menyebut kenaikan imbal hasil sebagai guncangan bagi pasar obligasi, sementara Gubernur Michelle Bowman mengatakan masih terlalu dini bagi para pejabat untuk mengetahui dampak penuh dari kenaikan yang terjadi baru-baru ini.

“Investor akan sangat memperhatikan pemikiran para pengambil kebijakan seputar perubahan kondisi keuangan baru-baru ini dan dampak penurunan hampir 50 basis poin dalam imbal hasil obligasi 10 tahun dan rebound yang kuat dalam penilaian saham terhadap jalur kebijakan moneter,” kata Ian Lyngen, kepala strategi suku bunga AS di BMO Capital Markets.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper