Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Mendingin, Efek Sinyal Hawkish the Fed dan Larangan Ekspor BBM Rusia

Harga minyak mentah menjauh dari level tertinggi tahunanya sebagai dampak dari kebijakan the Fed dan larangan ekspor BBM Rusia.
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat./Reuters
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah turun dari level tertinggi tahunannya, mengakhiri minggu yang penuh gejolak ketika Federal Reserve (the Fed) menahan suku bunga acuannya dan Rusia melarang ekspor solar.

Dilansir Bloomberg, Sabtu (23/9/2023), ketika Rusia mengumumkan penghentian sementara ekspor bahan bakar, pasar pun semakin ketat. Namun, sinyal dari the Fed untuk mempertahankan bunga acuan lebih lanjut telah mendinginkan laju reli harga minyak.

Harga minyak di West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$90 per barel, menghentikan reli sebelumnya. WTI juga membukukan kerugian mingguan pertamanya dalam sebulan terakhir, usai mencapai level tertinggi pada tahun ini.

Sementara Reuters melaporkan minyak Brent ditutup 3 sen lebih rendah pada level US$93,27 per barel. Angka ini turun 0,3 persen sepanjang minggu ini, mengakhiri kenaikan dalam 3 minggu terakhir.

Harga minyak pada kuartal akhir ini telah meningkat sejalan dengan kebijakan Arab Saudi dan Rusia untuk memperpanjang pembatasan produksi mereka selama akhir tahun. Permintaan pun diprediksi juga mengalami kenaikan, terutama dari China yang merupakan importir minyak terbesar di dunia.

Terlepas dari fluktuasi harga komoditas di bursa berjangka, masih terdapat sejumlah sinyal pengetatan pada pasar fisik. Larangan sementara yang diberlakukan Rusia mengangkat harga bahan bakar, sementara penurunan stok di AS menyebabkan rentang waktu semakin melebar, hal ini menunjukkan persaingan yang kuat untuk mendapatkan pasokan jangka pendek.

Di kawasan Timur Tengah, pejabat AS bertemu dengan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia Al-Sudani untuk berdiskusi dan mendesak pembukaan kembali saluran pipa minyak mentah Irak-Turki secepatnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper