Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ramalan Nilai Tukar Rupiah Usai Tertekan ke Level Rp15.300

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diramal masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama karena sentimen global.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diramal masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama karena sentimen global. JIBI/Bisnis.com
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diramal masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama karena sentimen global. JIBI/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diramal masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Hal ini sejalan dengan rilis data ekonomi China yang cukup mengecewakan pada Juli 2023.

Mengutip data Bloomberg, pukul 13.25 WIB, rupiah melemah 22 poin atau 0,14 persen menjadi Rp15.303,5 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS turun 0,26 persen ke level 103,305.

Analis Pasar Mata Uang Lukman Leong mengatakan rupiah beserta mata uang Asia lainnya cenderung melemah terhadap greenback setelah data ekonomi China memperlihatkan hasil yang mengecewakan, seperti produksi industri dan penjualan ritel yang naik tetapi di bawah harapan. 

Dari sisi dalam negeri, impor dan ekspor Indonesia juga masih mengalami penurunan walau kondisi tersebut masih lebih baik dari perkiraan. Akan tetapi, cadangan devisa hanya bertambang US$1,3 miliar atau jauh di bawah ekspektasi yang sebesar US$2,5 miliar. 

“Untuk jangka pendek rupiah masih akan tertekan oleh prospek perlambatan ekonomi di China yang akan menekan permintaan ekspor Indonesia serta harga komoditas ekspor seperti CPO dan batu bara yang masih lemah,” ujar Lukman kepada Bisnis, baru-baru ini

Di sisi lain, dia mengatakan Bank Indonesia (BI) masih terlihat aktif mengintervensi pelemahan tersebut. Hal tersebut dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga volatilitas nilai tukar. 

Menurut Lukman, dengan revisi Peraturan Pemerintah (PP) terkait dengan Devisa Hasil Ekspor (DHE), cadangan devisa diharapkan akan terus meningkat. Dengan demikian, hal tersebut dapat mendukung seluruh upaya intervensi yang dilakukan BI. 

Namun, dia menilai BI sedang kesulitan dalam menurunkan tingkat suku bunga. Dengan inflasi yang sudah sesuai target, bank sentral masih diharapkan untuk tidak menurunkan suku bunga karena hal ini akan membuat rupiah semakin tidak menarik. 

“Jadi, intervensi adalah hal yang paling bijaksana untuk saat ini,” pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper