Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Melonjak setelah Inflasi AS Mereda, The Fed Diprediksi Dovish

Wall Street kompak menguat pada awal perdagangan Kamis (10/8/2023) seiring dengan menurunnya inflasi AS yang mengindikasikan The Fed dovish soal suku bunga.
Wall Street kompak menguat pada awal perdagangan Kamis (10/8/2023) seiring dengan menurunnya inflasi AS yang mengindikasikan The Fed dovish soal suku bunga. Bloomberg/Michael Nagle
Wall Street kompak menguat pada awal perdagangan Kamis (10/8/2023) seiring dengan menurunnya inflasi AS yang mengindikasikan The Fed dovish soal suku bunga. Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Wall Street kompak menguat pada awal perdagangan Kamis (10/8/2023) seiring dengan menurunnya inflasi Amerika Serikat (AS) yang memberikan sinyal Federal Reserve akan menahan suku bunga acuan.

Pukul 22.10 WIB, Dow Jones naik 0,67 persen ke 35.358,47, S&P 500 naik 0,79 persen ke 4.502,83, dan Nasdaq naik 0,66 persen ke 13.812,54.

Saham AS naik pada hari Kamis setelah data inflasi AS yang diawasi ketat di bawah ekspektasi, memperkuat pandangan investor bahwa Federal Reserve mungkin telah selesai menaikkan suku bunga, mengutip Financial Times.

Dolar AS melemah ketika investor mengharapkan suku bunga yang lebih rendah, turun 0,4 persen terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya.

Pergerakan itu terjadi setelah pembacaan inflasi AS terbaru menunjukkan harga naik pada tingkat tahunan 3,2 persen pada Juli, sedikit di bawah perkiraan konsensus 3,3 persen. Pembacaan itu lebih tinggi dari 3 persen pada bulan sebelumnya.

Inflasi inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, mencapai 4,7 persen, juga sedikit di bawah perkiraan 4,8 persen dari para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Data tersebut kemungkinan memperkuat keyakinan investor bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berikutnya pada bulan September, setelah membawa mereka ke level tertinggi 22 tahun sejak musim panas lalu dalam upaya menurunkan inflasi yang mengamuk.

“Pasar mengapresiasi harapan bahwa data inflasi dapat membuat Fed bersikap dovish”, kata Richard Flax, kepala investasi di Moneyfarm.

Di pasar obligasi pemerintah AS, imbal hasil Treasury dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan turun 0,03 poin persentase menjadi 4,77 persen. Imbal hasil pada catatan benchmark 10 tahun turun 0,02 poin persentase menjadi 3,99 persen. Imbal hasil obligasi naik karena harga turun.

“Masih ada satu lagi laporan inflasi dan pekerjaan sebelum pertemuan FOMC berikutnya. Ini menjadi sinyal bagi The Fed,” kata Nathaniel Casey, ahli strategi investasi di Evelyn Partners.

INFLASI AS

Inflasi Amerika Serikat (AS) pada Juli 2023 kembali mendingin sehingga mendorong Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) mampu menjinakkan tekanan harga tanpa memicu resesi. 

Dilansir Bloomberg pada Kamis (10/8/2023), berdasarkan data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS indeks harga konsumen (IHK) naik 3,2 persen pada bulan lalu secara tahunan (year-on-year/yoy). Jika dibandingkan dengan Juni 2023, inflasi pada Juli 2023 naik 0,2 persen.

IHK, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi naik 0,2 persen, dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Sementara, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, atau disebut pengukuran inti (di mana ekonom melihat sebagai indikator yang lebih tepat untuk mengukur inflasi), naik 4,7 persen.

Realisasi tersebut menyentuh level terendah sejak 2021, tetapi tetap berada di atas target The Fed yakni sebesar 2 persen.

Meskipun masih tinggi, inflasi telah melambat hampir setiap bulan sejak mencapai puncaknya di 6,6 persen pada September 2022.

Kemajuan IHK per Juli 2023 yang dikombinasikan dengan pertumbuhan ekonomi yang solid dan pasar tenaga kerja yang sehat tetapi secara bertahap mendingin, merupakan sentimen yang positif bagi kebijakan bank sentral.

Dapat diketahui bahwa data yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja pada Kamis (10/8/2023) akan sangat penting dalam menentukan kebijakan The Fed dalam beberapa minggu mendatang. Laporan IHK terbaru juga menjadi salah satu dari sejumlah rilis data utama yang akan dibahas pejabat The Fed pada September 2023.

Investor sendiri juga tidak mengharapkan bank sentral untuk terus menaikkan suku bunga, setelah suku bunga acuan pada Juli 2023 mencapai level tertinggi dalam 22 tahun terakhir.

Jika tren saat ini terus berlanjut, maka kemungkinan The Fed tetap membiarkan suku bunga tidak berubah pada bulan depan.

Dapat diketahui bahwa lebih dari 90 persen kenaikan keseluruhan data IHK disebabkan oleh biaya perumahan yang telah dimoderasi sejak awal tahun. Asuransi mobil juga berkontribusi pada kenaikan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper