Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penyebab Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Tinggalkan Rp16.000

Mata uang rupiah melonjak pada perdagangan hari ini, Kamis (16/5/2024), meninggalkan level Rp16.000 per dolar AS.
Maria Elena, Rizqi Rajendra
Maria Elena & Rizqi Rajendra - Bisnis.com
Kamis, 16 Mei 2024 | 16:11
Mata uang rupiah melonjak pada perdagangan hari ini, Kamis (16/5/2024), meninggalkan level Rp16.000 per dolar AS. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Mata uang rupiah melonjak pada perdagangan hari ini, Kamis (16/5/2024), meninggalkan level Rp16.000 per dolar AS. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah melonjak pada perdagangan hari ini, Kamis (16/5/2024), meninggalkan level Rp16.000 seiring dengan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang melemahkan dolar AS.

Rupiah ditutup naik 104,5 poin atau 0,65% menjadi Rp15.923 per dolar AS. Indeks dolar AS terkoreksi 0,04% ke level 104,308.

Sementara itu, mata uang Asia lainnya cenderung naik. Dolar Taiwan naik 0,30%, won Korea Selatan naik 1,12%, peso Filipia naik 0,14%, ringgit Malaysia naik 0,46%, dolar Singapura naik 0,05%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan dolar AS terekan karena rilis data inflasi AS yang di bawah ekspektasi. Hal ini memunculkan kembali peluang pemangkasan suku bunga The Fed ke depannya.

"Data tersebut, yang juga diikuti oleh data penjualan ritel yang lebih lemah dari perkiraan, meningkatkan harapan bahwa inflasi akan semakin menurun dalam beberapa bulan mendatang, memberikan kepercayaan diri yang lebih besar kepada The Fed untuk mulai memangkas suku bunga," paparnya dalam publikasi riset

Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 0,3% dibandingkan bulan sebelumnya dan 3,4% dibandingkan tahun sebelumnya di bulan April, sebuah perlambatan dari bulan Maret. Inflasi inti – yang tidak mencakup biaya makanan dan bahan bakar – juga menurun.

Angka inflasi yang relatif di bawah ekspektasi menyebabkan imbal hasil Treasury 10-tahun turun 4,35%, level terendah dalam sebulan, dan memicu spekulasi baru mengenai penurunan suku bunga Fed segera pada bulan September.

Menurut CME FedWatch Tool, sekitar 70% trader kini memperkirakan setidaknya satu pemotongan suku bunga pada pertemuan bulan September, peningkatan yang signifikan dari minggu lalu.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$403,9 miliar atau Rp6.491,56 triliun (kurs Rp16.072 per dolar AS) pada akhir kuartal I/2024.

Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyampaikan bahwa posisi ULN pada periode tersebut turun jika dibandingkan dengan posisi ULN pada kuartal IV/2023 yang sebesar US$408,5 miliar atau Rp6.565,49 triliun. 

"Penurunan posisi ULN ini bersumber dari ULN sektor publik maupun swasta," katanya melalui keterangan resmi, Rabu (15/5/2024). 

Erwin mengatakan secara tahunan, ULN Indonesia pada kuartal I/2024 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,02% (year-on-year/yoy), setelah tumbuh 3,0% yoy pada kuartal sebelumnya.   

Dia merincikan, posisi ULN pemerintah pada kuartal I/2024 tercatat sebesar US$192,2 miliar atau Rp3.089 triliun turun dibandingkan dengan posisi kuartal sebelumnya sebesar US$196,6 miliar atau Rp3.159 triliun. 

Secara tahunan, ULN pemerintah tersebut terkontraksi sebesar 0,9% yoy, setelah tumbuh 5,4% yoy pada kuartal IV/2024. 

"Penurunan posisi ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh perpindahan penempatan dana investor nonresiden pada Surat Berharga Negara [SBN] domestik ke instrumen investasi lain seiring dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global," jelas Erwin.

Sejalan dengan itu, Erwin mengatakan bahwa ULN swasta juga mencatatkan penurunan, menjadi US$197,0 miliar atau Rp3.166,22 triliun pada kuartal I/2024, lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada kuartal sebelumnya sebesar US$198,4 miliar atau Rp3.188,7 triliun. 

Secara tahunan, imbuhnya, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,8% yoy, lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal IV/2024 sebesar 1,2% yoy. 

Kontraksi pertumbuhan ULN swasta tersebut bersumber dari perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) dan lembaga keuangan (financial corporations) yang masing-masing mencatatkan kontraksi sebesar 1,8% yoy dan 1,6% yoy.

Ibrahim menyampaikan sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan APBN, pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif serta belanja prioritas pemerintah yang utamanya mencakup sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 21,1% dari total ULN pemerintah.

Dia memprediksi untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif tetapi ditutup menguat direntang Rp15.860-Rp15.950 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper