Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BUMN Karya Gagal Bayar Surat Utang, Saham Emiten Konstruksi Bisa Tertekan

Ketidakmampuan BUMN Karya dalam membayar surat utang korporasi dinilai akan membuat saham sektor konstruksi semakin tertekan.
Karyawati beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari pertama perdagangan saham tahun 2023 di Jakarta, Senin (2/1/2023). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari pertama perdagangan saham tahun 2023 di Jakarta, Senin (2/1/2023). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakmampuan BUMN Karya dalam membayar surat utang korporasi dinilai akan membuat saham sektor konstruksi secara umum akan semakin tertekan.

Salah satu BUMN Karya yang gagal membayar utang obligasi adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Perseroan diketahui tidak mampu membayar bunga dan pokok obligasi berkelanjutan IV senilai Rp135,5 miliar yang jatuh tempo pada 6 Agustus 2023.

Waskita juga masih memiliki utang senilai Rp941,75 miliar dari penerbitan Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap III Tahun 2018 Seri B. Utang yang jatuh tempo pada 28 September mendatang ini memiliki tingkat bunga sebesar 9,75 persen per tahun.

Selain itu, entitas usaha Waskita yakni PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) juga diketahui tidak mampu membayar utang dari empat seri obligasi. Alhasil, perseroan mengadakan rapat umum pemegang obligasi (RUPO) untuk mencari jalan keluar atas gagal bayar tersebut.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menyatakan ketidakmampuan BUMN Karya dalam membayar utang obligasi akan memberikan dampak negatif terhadap saham sektor konstruksi secara umum.

Akibatnya, saham sektor konstruksi akan semakin tertekan lantaran dikelilingi oleh sentimen negatif. Salah satunya adalah meningkatnya risiko kredit dari sektor konstruksi.

“Bagi perusahaan BUMN Karya lainnya yang ingin melakukan refinancing utangnya pun menjadi lebih sulit atau harus memberikan imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga dampaknya perusahaan konstruksi akan lebih sulit mencari pembiayaan. Kalaupun ada, biayanya lebih mahal” ujarnya kepada Bisnis Kamis (10/8/2023).

Dia pun memperkirakan saham sektor konstruksi dalam jangka pendek masih akan menantang. Sejumlah proyek juga diperkirakan akan direm menjelang Pemilihan Umum (Pemilu), sehingga kondisi ini akan memperberat langkah perusahaan untuk melaju optimal.

Kendati demikian, Martha memperkirakan saham sektor konstruksi masih mempunyai peluang untuk bangkit setelah Pemilu 2024 usai diselenggarakan. Hal itu seiring dengan kebijakan calon presiden terpilih nantinya terkait dengan pembangunan infrastruktur. 

____

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper