Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp14.955, Jadi Paling Boncos di Asia

Rupiah ditutup melemah ke Rp14.955 per dolar AS. Uang Garuda menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah pada penutupan akhir pekan ini.
Ilustrasi utang pemerintah Indonesia dalam mata uang rupiah dan dolar AS. JIBI/Himawan L Nugraha. rn
Ilustrasi utang pemerintah Indonesia dalam mata uang rupiah dan dolar AS. JIBI/Himawan L Nugraha. rn

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah menutup akhir pekan dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat (26/5/2023). Rupiah ditutup melemah 0,01 ke Rp14.955 per dolar AS ketika mayoritas mata uang Asia menguat terhadap greenback.

Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 2 poin. Hal tersebut terjadi di tengah penurunan indeks dolar AS sebesar 0,20 persen ke 103,97 dari posisi pembukaannya 104,16.

Sementara itu, sebagian besar mata uang Asia lainnya terpantau perkasa terhadap dolar AS. Kenaikan tertinggi diperlihatkan peso Filipina yang menguat 0,49 persen. Kemudian disusul yuan China yang menguat 0,46 persen terhadap dolar AS.

Kenaikan juga diperlihatkan yen Jepang yang menguat 0,39 persen dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,32 persen terhadap dolar AS. Rupiah menjadi satu-satunya mata uang asia yang melemah pada penutupan akhir pekan ini.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam risetnya menyebutkan sinyal hawkish dari Federal Reserve membuat dolar tetap optimistis, sembari membebani emas karena pembuat kebijakan mengisyaratkan bahwa AS diperkirakan akan pulih dari resesi 2016.

Suku bunga diperkirakan berada pada posisi tinggi untuk durasi yang lebih lama untuk menangkal inflasi. Di sisi lain, indeks pengeluaran konsumsi pribadi yang menjadi acuan inflasi The Fed diperkirakan bakal memberi petunjuk kebijakan yang lebih banyak ke depannya.

“Dolar menguat meskipun mendekati tenggat default utang Amerika Serikat pada 1 Juni 2023 karena para trader melihat beberapa faktor yang akan mempengaruhi status mata uang cadangan tersebut,” kata Ibrahim, Jumat (26/5/2023).

Dari dalam negeri, tingkat konsumsi diperkirakan tetap tinggi menjelang tahun politik, terutama saat periode kampanye. Momentum tersebut bakal meningkatkan jumlah uang beredar di masyarakat dan di sisi lain bakal membuat investor bakal lebih memilih wait and see.

Kalau melihat pemilu sebelumnya, ada indikasi di tahun politik pengusaha wait and see. Namun ini terjadi dulu karena kondisi yang mencekam. Kondisi pemilihan umum ke depan kemungkinan cukup kondusif,” tambahnya.

Selain itu,  Bank Indonesia (BI) juga merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi dunia 2023 dari perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi global 2023 diestimasi mencapai 2,7 persen yoy, dibandingkan perkiraan bulan sebelumnya yang sebesar 2,6 persen. Hal tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekonomi negara berkembang yang lebih kuat. Terutama, ekonomi China yang diramal tumbuh lebih baik didorong oleh pembukaan ekonomi pascapandemi Covid-19.

Untuk perdagangan pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan dibuka fluktuatif dan berpotensi kembali melemah di rentang Rp14.930—15.000 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper