Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emiten Kertas Grup Sinar Mas (INKP) Bakal Aksi Korporasi demi Pabrik Rp57 Triliun

PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) bekerja keras mengumpulkan dana untuk ambisi pembangunan pabrik baru Indah Kiat Pulp & Paper di Karawang.
Rencana pembangunan pabrik tersebut disetujui oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) INKP pada Selasa (16/5/2023)./Bisnis-Artha Adventy
Rencana pembangunan pabrik tersebut disetujui oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) INKP pada Selasa (16/5/2023)./Bisnis-Artha Adventy

Bisnis.com, JAKARTA – PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) bekerja keras mengumpulkan dana untuk ambisi pembangunan pabrik baru Indah Kiat Pulp & Paper di Karawang yang memakan dana US$3,63 miliar atau setara dengan Rp57,14 triliun.

Direktur Indah Kiat Pulp & Paper Kurniawan Yuwono menyebutkan dana tersebut 40 persen berasal dari belanja modal yang disiapkan INKP sebesar US$1 miliar atau setara Rp14,81 triliun (kurs jisdor Rp14.810).

“60 persen dana pembangunan pabrik berasal dari pinjaman bank jangka panjang dan surat utang lainnya (obligasi),” katanya dikutip Minggu (21 /5/2023).

Rencana salah satu upaya penggalangan dana adalah melalui penerbitan obligasi, namun Kurniawan enggan merincikan total obligasi yang akan diterbitkan karena masih harus melihat minat dan potensi serapan pasar.

Ambisi INKP membangun pabrik baru didasari oleh utilitas pabrik lama yang sudah mencapai 95 persen dan keyakinan atas peningkatan permintaan produksi yang akan datang.

Rencana pembangunan pabrik tersebut disetujui oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Selasa (16/5/2023). Pabrik yang akan berdiri di Karawang, Jawa Barat tersebut rencananya berkapasitas 3,9 juta ton per tahun.

Kurniawan mengungkapkan kesiapan produksi pabrik terbagi dalam tiga tahap tergantung dengan jenis mesin pembuiat kertas. Tahap pertama yaitu mesin yang memproduksi white paper pada kuartal III/2024, tahap kedua yaitu mesin produksi brown paper yang akan beroperasi pada kuartal IV/2024 dan tahap ketiga mesin kedua white paper di kuartal III/2025.

Kurniawan bilang nantinya produksi pabrik baru seluruhnya akan dialokasikan untuk permintaan ekspor. Alokasi seluruhnya untuk permintaan ekspor dengan pertimbangan permintaan saat ini. Hingga akhir 2022, segmen ekspor INKP mencapai 55 persen sementara segmen domestik hanya 45 persen dari total produksi.

Hal itu karena negara tujuan ekspor INKP sudah meliputi 150 negara di 5 benua, sehingga permintaan saat ini tinggi dan diproyeksikan ke depan akan lebih meningkat.

Pada kuartal I/2023, segmen ekspor meningkat menjadi 60 persen dan permintaan dalam negeri turun ke 40 persen.

“Negara tujuan ekspor INKP saat ini ke 150 negara dan di 5 benua dan kami tidak menutup peluang kita akan ekspor ke negara lainnya. Di australia akan ada peningkatan penjualan jadi ada peluang akan penetrasi kesana,” kata Kurniawan.

Meski memiliki ambisi besar pada pembangunan pabrik dan dan keyakinan peningkatan permintaan produksi, INKP justru menargetkan pendapatan yang lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya.

Emiten kertas Grup Sinarmas tersebut menargetkan pendapatan di angka US$3,8 miliar hingga US$3,9 miliar sepanjang 2023. Angka itu terpantau lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan sepanjang 2022 yang tercatat sebesar US$4 miliar.

Namun demikian, penambahan produksi kertas dari pabrik baru akan berkontribusi terhadap pendapatan bersih INKP sebesar US$1,3 miliar di tahun 2024. 

“Sementara laba bersih belum dapat dirincikan karena sangat bergantung dari harga dan permintaan yang sangat dinamis,” kata Kurniawan.

Laba bersih INKP sepanjang 2022 tercatat sebesar US$857,51 juta atau sekitar Rp13,26 triliun pada 2022. Laba bersih tersebut melonjak 62,91 persen yoy dari sebelumnya US$526,36 juta pada 2021. (kurs jisdor Rp15.468).

Laba tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan bersih sebesar 13,82 persen menjadi US$4 miliar atau setara Rp61,87 triliun sepanjang 2022. Penjualan emiten kertas Grup Sinarmas ini ditopang oleh penjualan domestik sebesar 45 persen dengan rincian penjualan kepada pihak berelasi, salah satunya PT Cakrawala Mega Indah sebesar US$1,74 miliar dan pihak ketiga sebesar US$1,78 miliar.

Sementara itu, penjualan ekspor sebesar 55 persen dengan rincian pihak berelasi Jinxin (Qingyuan) Paper Industry Co. Ltd, Yalong Paper Products (Kunshan) Co. Ltd. dan Cabang-cabang APP sebesar US$61,54 juta serta pihak ketiga sebesar US$2,15 miliar atau setara dengan Rp33,25 triliun.

Pada tahun 2022 dan 2021, total penjualan kepada pihak berelasi masing-masing sebesar US$1,8 miliar dan US$1,6 miliar masing-masing 45,08 persen dan 44,57 persen dari total penjualan neto konsolidasian.

Sejalan dengan penjualan yang meningkat, beban pokok INKP juga tercatat meningkat 5,4 persen dibanding tahun lalu menjadi US$2,41 miliar atau setara Rp37,27 triliun sepanjang 2022.  Alhasil, laba kotor INKP tercatat sebesar US$1,58 miliar atau setara Rp24,43 triliun, angka ini meningkat 29,3 persen jika dibandingkan dengan laba kotor tahun lalu. Sementara itu laba usaha tercatat sebesar US$1,13 miliar.

Peluang Permintaan Kertas INKP

Financial Expert Ajaib Sekuritas Chisty Maryani mengatakan akan ada peluang permintaan lebih tinggi untuk emiten kertas khususnya INKP dari kebijakan Pemerintah Tokyo yang merevisi peraturan Green Pricurement Guide (GPD).

Jika melihat data historikaal, kata Chisty, dalam 5 tahun terakhir sejak 2018 hingga 2022, tren ekspor produk kertas Indonesia masih fluktuatif dan cenderung menurun. Pada 2018, ekspor kertas Indonesia ke Jepang mencapai US$ 255,5 juta. Namun disaat 2022, ekspor produk kertas Indonesia ke Jepang mencapai sebesar US$ 259,7 juta.

“Secara kumulatif, dalam 5 tahun terakhir nilai ekspor produk kertas dari Indonesia ke Jepang mencapai sebesar US$ 1,29 miliar,” katanya dalam riset.

Kinerja emiten kertas berpotensi tumbuh positif seiring dengan adanya revisi peraturan Green Procurement Guide yang berpotensi meningkatkan ekspor tersebut. Kinerja positif tersebut akan terefleksi pada kuartal II/2023.

Prospek secara jangka panjang pada kinerja emiten kertas juga masih sangat positif karena permintaan kertas yang masih tinggi baik dalam negeri maupun global. Saat ini, emiten kertas pun juga mulai fokus untuk mengalihkan kemasan berbahan kertas menggantikan produk plastik, dimana permintaan penggunaan produk plastik cukup tinggi mengingat demand dari tren e-commerce meningkat.

Katalis negatif emiten kertas berasal dari potensi penurunan permintaan akibat perekonomian global yang melambat dan sentimen pelaku pasar global pada pasar Amerika Serikat atas potensi gagal bayar utang. Selain itu, penurunan harga komoditas kraft Pulp pada pasar komoditas global juga turut menjadi katalis negatif.

“Dari katalis negatif tersebut, diharapkan emiten-emiten kertas mampu memperkuat pangsa pasar domestik agar profitabilitasnya dapat bertahan menghadapi potensi risiko dari tekanan global,” jelas Chisty.

Chisty merekomendasikan buy untuk saham INKP dengan rincian support di angka Rp7.250 dan resistance di angka Rp7.600 serta cutloss di angka Rp7.100.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper