Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Sesi I Naik ke 6.823, Saham GOTO, BMRI dan BBRI Hijau

IHSG naik 0,56 persen ke posisi 6.823,83 pada penutupan perdagangan sesi I hari ini (14/4/2023) bersamaan dengan menghijaunya saham GOTO, BMRI dan BBRI.
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (12/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (12/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik pada sesi I perdagangan Jumat (14/4/2023), bersamaan dengan menguatnya saham-saham big caps seperti, GOTO, BMRI, dan BBRI.

IHSG naik 0,56 persen atau 38,23 poin menjadi 6.823,83 pada akhir sesi I. Sepanjang sesi, indeks bergerak di zona hijau pada rentang 6.801-6.834. Sebanyak 235 saham menguat, 258 saham melemah, dan 211 saham di posisi yang sama dengan penutupan perdagangan sebelumnya.

Mayoritas saham penghuni big cap terpantau menguat. Saham GOTO naik sebesar 2,20 persen atau 2 poin ke level 93. Selanjutnya BMRI naik 1,95 persen ke posisi 5.225 dan BBRI naik 0,90 persen ke 5.025.

Adapun saham yang melemah antara lain, ITMG yang turun 1,08 persen ke 34.225, kemudian ASII turun 0,80 persen ke 6.200 dan UNTR turun 0,72 persen ke 30.825.

Sementara saham TLKM dan BBTN terpantau gerak ditempat alias stagnan.

Sebelumnya, Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan resistance IHSG akan berada di 6.835 dengan support pada 6.750. Menurutnya, IHSG berpotensi rebound ke kisaran 6.820-6.835 di Kamis (13/4/2023), seiring dengan sejumlah sentimen positif eksternal. 

Secara teknikal, IHSG kembali membentuk lower-shadow panjang di Rabu (12/4/2023). Stochastic RSI berpotensi membentuk golden cross di kisaran oversold area, menjaga peluang rebound tersebut.

"IHSG hari ini kemungkinan besar ditopang oleh respon pasar terhadap data inflasi AS," tulis Valdy, Kamis (13/4/2023). 

Dari eksternal, koreksi berlanjut pada mayoritas indeks Wall Street di perdagangan Rabu (12/4/2023). Koreksi tersebut dipicu oleh risalah FOMC The Fed bulan Maret 2023 yang menunjukan kekhawatiran bank sentral tersebut terhadap potensi mild recession di AS di akhir tahun 2023. 

Kekhawatiran ini didasari oleh potensi dampak ekonomi dari perkembangan situasi sektor perbankan di AS setelah penutupan SVB dan Signature Bank di akhir Februari 2023.

"Penurunan inflasi di AS yang lebih dalam dari perkiraan di Maret 2023 belum mampu mengimbangi kekhawatiran di atas," tuturnya. 

Inflasi di AS turun ke 5 persen yoy di Maret 2023, dari 6 persen yoy di Februari 2023, lebih rendah dari perkiraan di 5,2 persen yoy. Akan tetapi inflasi inti masih bertahan di 5,6 persen yoy di Maret 2023.

Sebaliknya, mayoritas indeks di Eropa merespon positif realisasi data inflasi di AS tersebut. Data tersebut membangun keyakinan bahwa terminal rate dari The Fed sudah tidak jauh dari level saat ini.

Dari dalam negeri, penjualan ritel tumbuh 0,6 persen yoy di Februari 2023 dari kontraksi 0,6 persen yoy di Januari 2023. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa konsumsi domestik masih kuat dan berpotensi menjaga laju pertumbuhan ekonomi di 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper