Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Pekan Ini Terjatuh Kena Sandungan Krisis Sektor Perbankan

Indeks-indeks Wall Street terjerembab akibat tersandung krisis sektor perbankan dan potensi dimulainya resesi.
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg/Michael Nagle
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks-indeks Wall Street terjerembab akibat tersandung krisis sektor perbankan dan potensi dimulainya resesi.

Melansir dari Antara, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,19 persen menjadi 31.861,98 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 1,10 persen, berakhir di 3.916,64 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 0,74 persen, ditutup di 11.630,51 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri sesi di zona merah. Ketiga indeks mengakhiri sesi jauh di wilayah negatif, dengan saham finansial turun paling banyak di antara sektor utama S&P 500.

Untuk minggu ini, sementara indeks acuan S&P 500 berakhir lebih tinggi dari penutupan Jumat (10/3) lalu, Nasdaq dan Dow membukukan penurunan mingguan.

SVB Financial Group mengumumkan akan mencari perlindungan kebangkrutan. Adapun perkembangan terbaru dalam drama berkelanjutan yang dimulai minggu lalu dengan runtuhnya Silicon Valley Bank dan Signature Bank, yang memicu kekhawatiran penularan di seluruh sistem perbankan global.

"[Aksi jual] sedikit reaksi berlebihan," kata Oliver Pursche, Wakil Presiden senior di Wealthspire Advisors di New York dikutip dari Antara. "Namun, ada validitas untuk beberapa kekhawatiran terkait likuiditas secara keseluruhan dan potensi krisis likuiditas."

Kekhawatiran itu telah menyebar ke Eropa, ketika saham Credit Suisse tersandung akibat kekhawatiran likuiditas, mendorong para pembuat kebijakan berebut untuk meyakinkan pasar.

"Ini jauh lebih jauh dari sekadar penarikan dana besar-besaran di SVB atau First Republic, ini menuju ke dampak nyata kenaikan suku bunga ini terhadap modal dan neraca," kata Pursche.

Selama dua minggu terakhir, indeks S&P Banking dan indeks KBW Regional Banking anjlok masing-masing sebesar 4,6 persen dan 5,4 persen, penurunan dua minggu terbesar sejak Maret 2020.

First Republic Bank anjlok 32,8 persen, setelah bank mengumumkan penangguhan dividennya, membalikkan lonjakan Kamis (16/3) yang dipicu oleh paket penyelamatan 30 miliar dolar AS yang belum pernah terjadi sebelumnya dari lembaga keuangan besar.

Di antara rekan-rekan First Republic, PacWest Bancorp terpuruk 19,0 persen, sementara Western Alliance terjungkal 15,1 persen. Saham Credit Suisse yang diperdagangkan di AS juga ditutup melemah tajam, jatuh 6,9 persen.

Investor sekarang mengalihkan pandangan mereka ke pertemuan kebijakan moneter dua hari Federal Reserve minggu depan.

Mengingat perkembangan terakhir di sektor perbankan dan data yang menunjukkan pelemahan ekonomi, investor telah menyesuaikan ekspektasi mereka mengenai ukuran dan durasi kenaikan suku bunga terbatas Fed.

"Krisis mini perbankan ini telah meningkatkan peluang resesi dan mempercepat waktu perlambatan ekonomi. Wajar jika Fed harus memeriksa kembali tindakannya, tetapi masih sangat jelas bahwa sementara inflasi melambat, itu masih sangat memprihatinkan dan perlu dikendalikan," kata Pursche.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Pandu Gumilar
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper