Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Rupiah Bertahan di Bawah Rp15.000, Saham Bank Layak Dicermati

Saham perbankan bakal jadi yang paling diuntungkan dengan posisi penguatan rupiah di bawah Rp15.000 per dolar AS.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 25 Januari 2023  |  18:53 WIB
Rupiah Bertahan di Bawah Rp15.000, Saham Bank Layak Dicermati
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta. Saham perbankan bakal jadi yang paling diuntungkan dengan posisi penguatan rupiah di bawah Rp15.000 per dolar AS. Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah masih bertahan di bawah Rp15.000 per dolar AS meskipun melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (25/1/2023). Analis menyebutkan penguatan rupiah bakal membawa angin segar untuk saham emiten perbankan.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,54 persen atau 80,5 poin ke Rp14.968 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,07 persen ke 101,99.

Macro Equity Strategist Lionel Priyadi mengatakan, penguatan rupiah kemarin ke bawah Rp15.000 disebabkan oleh inflow dana asing ke pasar obligasi.

“Tampaknya asing sudah mulai melihat situasi makro di Indonesia lebih kondusif daripada di emerging markets lainnya sehingga mereka memutuskan untuk menambah alokasi ke bonds,” katanya kepada Bisnis, Rabu (25/1/2023).

Adapun, di tengah kondisi ini, animo asing terhadap saham emiten Indonesia masih cenderung pada sektor defensif. Oleh karena itu,sektor defensif seperti consumer staples dan big banks relatif lebih aman dari rotasi dana asing dari pasar saham ke obligasi.

“Penguatan rupiah juga akan berdampak positif terhadap emiten yang memiliki komponen impor tinggi dan utang dalam mata uang asing, terutama dolar AS dalam jumlah besar,” terangnya.

Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, penguatan rupiah belakangan ink sejalan dengan data makro domestik yang telah rilis sebelumya yaitu neraca perdagangan yang masih melanjutkan surplus US$3,89 miliar pada Desember 2022. Hal ini membangun kepercayaan investor terkait prospek ekonomi di Indonesia.

“Penguatan tersebut sejalan dengan pergerakan positif untuk harga saham maupun obligasi. Terlihat pada 12 Januari ketika rupiah mulai menguat, pergerakan IHSG di hari yang sama pun ikut menguat hingga 24 januari 2023 kemarin, ditutup di area 6.860 atau sudah menguat sebesar 4,19 persen,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, yield obligasi 10 tahun yang berada di level 6,61 persen pada 24 januari 2023 juga konsisten mengalami penurunan sebesar 6,24 persen sejak level tertingginya pada awal tahun di 7,05 persen. Yield obligasi sendiri umumnya bergerak kebalikan dengan harga obligasi.

Alrich menyebutkan, salah satu emiten yang paling diuntungkan adalah emiten di sektor keuangan, khususnya bank.

“Karena penguatan nilai tukar rupiah atau stabilitas nilai tukar rupiah dapat berdampak positif pada kualitas aset sektor perbankan Indonesia secara keseluruhan,” ujarnya.

Adapun, saham masuk dalam rekomendasi Phintraco Sekuritas ada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masih dalam fase minor bullish reversal untuk mid-term.

“Akan tetapi dalam short-term terdapat potensi koreksi wajar untuk keluar dari overbought area, terutama jika penguatan saat ini tertahan di resistance 10.100. Akumulasi beli dapat dilakukan, jika koreksi terbatas di pivot di atas 9.500,” ujarnya.

Sementara, target harga dalam fase minor bullish reversal berada di 10.800-10.900.

Kemudian, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan target di 4.770. Pelemahan harga tidak diikuti dengan volume yang solid.

“Potensi BBRI akan menguji support terlebih dulu di kisaran 4.480-4.520 sebelum melanjutkan reli kenaikan. Target harga selanjutnya berada di 4.770,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham Gonjang Ganjing Rupiah Rupiah bank
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top