Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Prospek Reksa Dana Hingga Kekuatan Pasar Konstruksi Nasional 2023

Peluang produk investasi reksa dana menghasilkan keuntungan optimal di 2023 masih cukup tinggi. Nilai pasar konstruksi nasional juga diprediksi naik.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 04 Desember 2022  |  07:32 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: Prospek Reksa Dana Hingga Kekuatan Pasar Konstruksi Nasional 2023
Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati ekonomi global dibayang-bayangi resesi, potensi aset investasi Indonesia tidak serta merta kehilangan daya tariknya. Peluang produk investasi reksa dana untuk tetap menghasilkan keuntungan optimal di tahun 2023 masih cukup tinggi. Investasi reksa dana pada tahun depan diprediksi tetap moncer. Tahun 2022 menjadi tahun pemulihan bagi Indonesia dan dunia, baik dari sisi kesehatan maupun perekonomian.

Sementara itu, nilai pasar konstruksi nasional pada tahun 2023 diprediksi bakal mengalami kenaikan dan lebih baik ketimbang saat pandemi melanda Tanah Air. 

Berita tentang prospek investasi reksa dana yang tetap menarik dan proyeksi pasar properti di 2023 serta berita lainnya disajikan secara analitis dan mendalam di bisnisindonesia.id.

Berikut lima berita pilihan dalam top 5 news bisnisindonesia.id edisi Minggu (4/12/2022) yang kami sajikan untuk Anda.

1. Ingin Jadi Value Investor? Pahami Dulu Makna Indikator Saham Ini

Ada banyak indikator yang bisa digunakan investor untuk menilai kinerja suatu emiten sebelum memutuskan membeli sahamnya di pasar modal. Indikator-indikator ini mencerminkan sejumlah sudut pandang dalam menilai fundamental suatu emiten.

Beberapa indikator dasar dan cukup populer digunakan untuk melakukan penilaian awal terhadap suatu emiten yakni PER, PBV, DPR, DER, ROA, ROE, dan NPM. Silakan simak penjelasan masing-masing istilah.

2. Otak-Atik Besaran Bea Keluar Turunan Bijih Nikel

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi memastikan pemerintah bakal mulai memberlakukan bea keluar ekspor komoditas hasil olahan bijih nikel tahun depan.

Pekan ini, pemerintah bersama pelaku usaha masih mencari formulasi penentuan persentase bea keluar untuk sejumlah produk turunan bijih nikel seperti nikel pig iron (NPI) hingga feronikel (FeNi). Formulasi pungutan progresif itu diharapkan fleksibel mengikuti kondisi pasar nikel mendatang.

3. Optimisme Operator Bandara Kerek Penumpang di Sisa Tahun

Operator bandara pelat merah berupaya menembus angka psikologis baru alias menembus target tahun ini seiring dengan kondisi pemulihan jumlah penumpang yang terus terjadi sepanjang tahun di industri penerbangan. 

Dua operator milik negara yakni PT Angkasa Pura I (AP I) atau PT Angkasa Pura II (AP II) sama-sama mematok jumlah pelayanan penumpang melebihi target yang ditetapkan hingga akhir tahun

 4. Ancaman Negara jika Pengusaha Tak juga Lakukan Hilirisasi

Pemerintah akan menindak tegas pengusaha yang tak melakukan hilirisasi di Indonesia. Pemerintah akan tetap melakukan kebijakan tersebut lantaran terbukti memberikan nilai tambah bagi perekonomian domestik.

Kementerian Investasi/ BKPM tak akan segan untuk menahan perizinan pengusaha yang mencoba menghalangi terjadinya hilirisasi di dalam negeri.

Sejauh ini masih saja ada pengusaha yang mencoba untuk menghalangi agar tak terjadi hilirisasi yang masif. Salah satunya adalah hilirisasi batu bara menjadi DME (dimethyl ether). 

Sebelum adanya hilirisasi DME, impor LPG tiap tahunnya mencapai 6 juta metrik ton. Adapun, harga enam juta metrik ton saat ini mencapai US$900, sehingga pemerintah memberikan subsidi hampir Rp13 triliun. Padahal Indonesia dapat membuat substitusi impor yakni low kalori DME dan mampu menghasilkan nilai tambah.

5. Meneropong Kekuatan Pasar Konstruksi Nasional Hadapi Badai 2023

Nilai pasar konstruksi nasional pada 2023 diprediksi mengalami kenaikan dan lebih baik ketimbang saat pandemi melanda Tanah Air. Namun, pertumbuhan pasar industri konstruksi di tahun depan diproyeksikan tidak begitu besar. 

Hal itu bisa terjadi karena industri konstruksi turut serta menghadapi hambatan ekonomi selama tahun depan sebagai dampak proyeksi pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia yang rendah. 

Ditambah lagi, inflasi yang tinggi, kenaikan suku bunga, dan melambatnya pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan akan berdampak ada sektor konstruksi serta menahan pendapatan riil dan daya beli.

Sejumlah tantangan tersebut berdampak pada perlambatan aktivitas konstruksi. Hal ini juga mendorong sejumlah proyek konstruksi termasuk pengembang properti menjadwal ulang proyek mereka.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Top 5 News Bisnisindonesia.id Nikel penghiliran investasi penerbangan konstruksi
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top