Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rugi Pengelola Hypermart (MPPA) Naik Jadi Rp290 Miliar Kuartal III/2022

MPPA masih mencatatkan rugi bersih hingga kuartal III/2022 meski penjualan bersih naik 8,05 persen secara tahunan sehingga menjadi Rp5,33 triliun.
Petugas Hypermat tengah memindahkan barang belanjaan konsumen. Layanan park and pick up menjadi salah satu layanan baru PT Matahari Putra Prima Tbk. sejak penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB)./hypermart.co.id
Petugas Hypermat tengah memindahkan barang belanjaan konsumen. Layanan park and pick up menjadi salah satu layanan baru PT Matahari Putra Prima Tbk. sejak penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB)./hypermart.co.id

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pengelola jaringan Hypermart PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) melanjutkan kinerja bottom line negatif hingga akhir kuartal III/2022, meski penjualan mengalami kenaikan.

Berdasarkan laporan keuangan, Rabu (2/11/2022), sepanjang Januari–September 2022, rugi bersih MPPA mencapai Rp290 miliar, 68,24 persen lebih besar daripada kerugian periode yang sama tahun lalu senilai Rp172,37 miliar.

Kerugian tersebut dicatatkan MPPA meski penjualan bersih mengalami kenaikan 8,05 persen secara year-on-year (yoy) sehingga menjadi Rp5,33 triliun, dibandingkan dengan Rp4,93 triliun hingga September 2021.

Penjualan MPPA terutama ditopang oleh segmen eceran atau ritel yang berkontribusi sebesar Rp4,98 trilliun, naik 9,32 persen dibandingkan dengan Rp4,56 triliun hingga kuartal III/2021. Sementara itu, penjualan grosir atau wholesale justru turun 7,38 persen secara tahunan menjadi Rp347,07 miliar dari Rp374,74 miliar.

Kenaikan penjualan diikuti dengan naiknya beban pokok. MPPA melaporkan pengeluaran untuk beban pokok penjualan selama Januari–September 2022 mencapai Rp4,36 triliun, naik 7,58 persen yoy dari sebelumnya Rp4,05 triliun.

Sampai akhir September 2022, total aset MPPA turun 17,97 persen menjadi Rp3,81 triliun dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2021 sebesar Rp4,65 triliun. Penurunan aset terutama disebabkan oleh berkurangnya kas dan setara kas sebesar Rp512,87 miliar sehingga menjadi Rp239,71 miliar per 30 September 2022.

Selain itu, total liabilitas turun 13,57 persen menjadi Rp3,51 triliun per 30 September 2022 dari posisi akhir 2021 yang sebesar Rp4,06 triliun. Penurunan liabilitas terutama disebabkan oleh berkurangnya utang jangka pendek sebesar Rp215 miliar sehingga menjadi Rp335 miliar per 30 September 2022.

Sampai akhir pertama 2022, MPPA mengoperasikan toko Hypermart, Foodmart, Hyfresh dan Boston Health & Beauty masing-masing di 197 lokasi di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Jumlah lokasi ini berkurang dibandingkan dengan 31 Desember 2021 saat MPPA mengoperasikan Hypermart, Foodmart, Smart Club, Hyfresh dan Boston Health & Beauty di 200 lokasi.

Manajemen MPPA pada paparan publik Agustus 2022 menyampaikan bahwa Perseroan menargetkan bisa mulai membukukan laba pada 2023, setelah mengalami rugi dalam enam tahun terakhir secara berturut-turut.

“Kami menargetkan tahun depan sudah mulai menunjukkan profitabilitas, kami berusaha hal itu terealisasi di 2023,” kata Direktur MPPA Herry Senjaya dalam paparan publik virtual, Jumat (26/8/2022).

MPPA terakhir kali membukukan laba untuk tahun buku 2016 dengan nilai Rp38,43 miliar. Perseroan kemudian menderita rugi sebesar Rp1,24 triliun pada 2017, Rp898,27 miliar pada 2018, dan Rp552,67 miliar di 2019.

Besar kerugian MPPA cenderung turun menjadi Rp405,31 miliar pada 2020 dan selanjutnya Rp337,54 miliar pada 2021. Adapun sepanjang semester I/2022, rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp158,60 miliar. Nilai tersebut lebih besar daripada rugi bersih semester I/2021 sebesar Rp91,50 miliar.

Seiring dengan target untuk menekan rugi, Herry mengatakan MPPA membidik kenaikan penjualan sebesar 10 persen secara tahunan atau mencapai Rp7,32 triliun dibandingkan dengan 2021 sebesar Rp6,65 triliun.

Target pertumbuhan penjualan ini dipatok Hypermart di tengah risiko kenaikan inflasi. Herry mengatakan perseroan akan terus menyediakan produk yang relevan bagi konsumen dalam menghadapi tantangan ini.

“Kenaikan inflasi tentunya akan berdampak ke semua segmen konsumen. Kami menyadari risiko ini dan terus berusaha menyediakan produk yang relevan bagi konsumen dalam menghadapi kondisi high inflation,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper