Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Vale Indonesia INCO Jelaskan Dampak Royalti ke Proyek Nikel Baterai EV

Vale Indonesia menjelaskan dampak royalti sebesar 2 persen untuk harga nikel kadar rendah di bawah 1,5 persen.
Vale Indonesia menjelaskan dampak royalti sebesar 2 persen untuk harga nikel kadar rendah di bawah 1,5 persen.
Vale Indonesia menjelaskan dampak royalti sebesar 2 persen untuk harga nikel kadar rendah di bawah 1,5 persen.

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten nikel PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) buka suara terkait dampak penyesuaian royalti untuk komoditas nikel oleh Kementerian ESDM.

Melalui beleid terbaru PP Nomor 26 Tahun 2022 tengan Jenis Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian ESDM menambahkan poin pada royalti sebesar 2 persen untuk harga bijih nikel dengan kadar di bawah 1,5 persen per ton.

Bijih nikel kadar rendah tersebut akan menjadi bahan baku bagi industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan royalti tersebut tidak akan banyak mempengaruhi kinerja perusahaannya.

“Kalau untuk existing operation tidak ada pengaruhnya, karena aturan membayar royalti 2 persen untuk nikel juga sudah berlaku sejak 2014,” kata Bernardus kepada Bisnis, Rabu (24/8/2022).

Namun, kebijakan ini, kata Bernardus akan berpengaruh pada hasil nikel dari proyek selanjutnya yang memang difokuskan untuk pengembangan industri kendaraan listrik, seperti proyek smelter di Pomalaa dan di Blok Bahodopi.

“Royaltinya 2 persen untuk limonite [nikel kadar 1,5 persen], masih lebih rendah dari 10 persen yang berlaku untuk saprolite [nikel kadar 1,5-3 persen]. Jadi nanti pengaruhnya akan ke proyek baru,” kata Bernardus.

Saat ini, Vale tengah menggarap proyek pengolahan dan produksi nikel di Pomalaa, Kolaka Sulawesi Tenggara, bersama dengan rekanan terbarunya asal China, Shejiang Huayou Cobalt Company Limited (Huayou).

CEO Vale Indonesia Febriany Eddy mengatakan, proyek nikel di Pomalaa tersebut bisa memproduksi sampai dengan 120.000 ton per tahun.

“Jumlah ini lebih besar tiga kali lipat dari dengan kerja sama sebelumnya, bersama dengan Sumitomo 40.000 sekarang bisa up to 120.000,” ungkap Febri beberapa waktu lalu.

Selama proyek tersebut masih dibangun, Vale Indonesia sendiri tetap menargetkan tingkat produksi. Perusahaan menargetkan produksi nikel matte pada 2022 ini sekitar 65.000 ton, sama dengan target yang ditetapkan perusahaan pada awal tahun.

Direktur Keuangan INCO Bernardus Irmanto mengatakan, proyek Pomalaa sedang menyelesaikan definitive agreement dan persiapan teknis.

“Mudah-mudahan Pomaal bisa dimulai di akhir tahun ini. Konstruksi akan memakan waktu kurang lebih 3 tahun, jadi diperkirakan bisa berproduksi 2025 akhir,” kata Bernardus.

Selain itu, Vale juga masih menggarap proyek smelter yang disebut menjadi cikal bakal pengembangan pabrik bahan baku baterai di Blok Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.

Smelter nikel tersebut dikembangkan bersama dua mitra, Taiyuan Iron Steel Co. Ltd. (Tisco) dan Shandong Xinhai Technology Co. Ltd. (Xinhai) yang disepakati sejak Juni 2021. Proyek tersebut akan memiliki kapasitas produksi sekitar 73.000 metrik ton nikel per tahun disertai dengan fasilitas pendukungnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper