Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tertekan Kondisi Global, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,14 persen atau 21,00 poin ke Rp14.933,00 per dolar AS.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 04 Agustus 2022  |  15:50 WIB
Tertekan Kondisi Global, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah
Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali ditutup melemah pada hari ini, Kamis (4/8/2022), beriringan dengan turunnya beberapa mata uang lain di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,14 persen atau 21,00 poin sehingga parkir di posisi Rp14.933,00 per dolar AS. Indeks dolar AS pada pukul 15.10 WIB terpantau turut melemah 0,1890 poin atau 0,18 persen ke level 106,3170.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia yang ikut melemah adalah rupee India turun 0,73 persen, yen Jepang turun 0,22 persen, dan ringgit Malaysia turun 0,05 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, mata uang lain di kawasan Asia terpantau menguat yaitu baht Thailand naik 0,54 persen, peso Filipina naik 0,23 persen, dolar Singapura naik 0,10 persen, dan won Korea Selatan naik 0,05 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam dalam riset harian mengatakan, dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya berkaitan dengan kenaikan mengejutkan di industri jasa AS pada bulan Juli.

Data yang dirilis Rabu menunjukkan industri jasa AS secara tak terduga meningkat pada Juli di tengah pertumbuhan pesanan yang kuat, mendukung pandangan bahwa ekonomi tidak dalam resesi meskipun output merosot pada paruh pertama tahun ini.

Selain itu, sejumlah pembuat kebijakan The Fed, termasuk Presiden The Fed San Francisco Mary Daly dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari pada hari Rabu, menekankan bahwa perjuangan untuk mengendalikan inflasi yang melonjak akan terus berlanjut, bahkan jika terkait kenaikan suku bunga dapat secara signifikan membatasi kegiatan ekonomi.

Di sisi lain, bank sentral Inggris diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin, terbesar sejak 1995, menjadi 1,75 persen, yang merupakan level tertinggi sejak akhir 2008 pada awal krisis keuangan global.

Sementara itu dari domestik, Ibrahim menyampaikan bahwa pasar terus memantau perkembangan utang Indonesia yang terus mengalami kenaikan meski pemerintah memastikan utang negara sebesar Rp7.123 triliun berada dalam batas aman dan wajar.

“Adapun utang pemerintah didominasi instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dengan porsi sebesar 88,46 persen. Hingga akhir Juni 2022, penerbitan SBN yang tercatat sebesar Rp.6.301,88 triliun. Penerbitan ini juga terbagi menjadi SBN domestik dan SBN valuta asing (valas),” tulis Ibrahim dalam riset harian dikutip, Kamis (4/8/2022).

Ibrahim melanjutkan, berdasarkan mata uang, utang pemerintah didominasi oleh mata uang domestik (rupiah), yaitu 70,29 persen. Selain itu, saat ini kepemilikan oleh investor asing terus menurun sejak tahun 2019 yang mencapai 38,57 persen, hingga akhir tahun 2021 yang mencapai 19,05 persen, dan per 5 Juli 2022 mencapai 15,89 persen.

“Walaupun pemerintah memberikan sinyal aman terhadap utang pemerintah namun pelaku pasar sedikit goyah, karena kondisi pasar global yang terus tertekan akibat resesi teknikal di beberapa benua salah satunya AS dan Eropa serta ketegangan China dan Taiwan akibat kedatangan Pelosi,” jelasnya.

Berdasarkan sentimen di atas, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah esok hari, Jumat (5/8/2022), akan berfluktuatif dan kembali ditutup melemah di rentang Rp14.920 - Rp14.970.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Rupiah dolar as
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top