Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gelombang PHK di Perusahaan Startup, Bagaimana Prospek GOTO?

Ekosistem bisnis GOTO bisa tetap menikmati dampak positif dari pulihnya aktivitas ekonomi. Namun, GOTO masih dibayangi kinerja bisnis yang belum membukukan laba.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 30 Mei 2022  |  14:54 WIB
Gelombang PHK di Perusahaan Startup, Bagaimana Prospek GOTO?
Seremoni pencatatan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/4/2022). GoTo meraih dana Rp15,8 triliun dari IPO dan penjualan saham treasury. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tengah melanda industri perusahaan rintisan atau startup berbasis teknologi di Tanah Air. Perusahaan dengan permodalan kuat seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dinilai bisa lebih tahan menghadapi tekanan di sektornya meski masih mengalami rugi.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana berpendapat ekosistem bisnis GOTO bisa tetap menikmati dampak positif dari pulihnya aktivitas ekonomi. Namun, GOTO masih dibayangi kinerja bisnis yang belum membukukan laba.

“Artinya kerugian akan terus menggerus modal dan mengurangi aset. GOTO akan terus mencari pendanaan, salah satunya lewat rights issue. Dengan demikian harga GOTO cenderung akan volatil dan cenderung turun,” kata Wawan ketika dihubungi, Senin (30/5/2022).

Terpisah, Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan kemampuan GOTO untuk membalikkan kondisi keuangan ke posisi untung kemungkinan tidak bisa terealisasi dalam waktu dekat. Di tengah iklim persaingan antarperusahaan teknologi bermodal besar yang berlanjut, Teguh menilai GOTO akan melanjutkan strategi promosi untuk mengamankan konsumen.

“Di saat startup-startup kecil mulai surut usahanya, yang besar seperti GOTO bisa hadir sebagai penguasa pasar. Dengan demikian ketika mereka tidak perlu lagi menawarkan promo dengan membakar duit. Mereka bisa mulai memaksimalkan pendapatannya dan membalik kondisi keuangannya dari yang rugi menjadi laba,” terang Teguh.

Berdasarkan prospektusnya, GoTo tercatat masih mencatatkan kerugian, meski dapat ditekan hingga akhir Juli 2021. GoTo membukukan pendapatan bruto senilai Rp6,89 triliun per akhir Juli 2021. Pendapatan ini meningkat 40,95 persen dibandingkan dengan posisi Juli 2020 sebesar Rp4,89 triliun.

Begitu pula dengan pendapatan bersih perseroan yang tercatat naik 54,93 persen dari Rp1,62 triliun, menjadi Rp2,5 triliun di Juli 2021.

Meski pendapatannya naik, GoTo tercatat masih membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp8,16 triliun di akhir Juli 2021. Kerugian ini tercatat lebih kecil dibandingkan Juli 2020 sebesar Rp11,2 triliun.

Adapun pada akhir 2020, GoTo mencatatkan pendapatan bruto senilai Rp8,41 triliun, dengan pendapatan bersih Rp3,32 triliun, dan rugi tahun berjalan senilai Rp16,73 triliun.

Hingga akhir Juli 2021, GoTo mencatatkan jumlah aset senilai Rp148,2 triliun, dengan jumlah liabilitas Rp17,68 triliun, dan jumlah ekuitas Rp130,52 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp Goto GoTo Gojek Tokopedia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top