Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tertekan Kekhawatiran Pertumbuhan, Harga MInyak Mentah Melemah

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni jatuh 1,68 poin atau 1,6 persen ke level US$106,65 per barel di bursa ICE Futures Europe.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 April 2022  |  06:40 WIB
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah melemah pada akhir perdagangan Jumat (22/4/2022) di tengah prospek pertumbuhan global yang lebih lemah, kenaikan suku bunga, dan lockdown di China.

Dilansir Antara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni jatuh 1,68 poin atau 1,6 persen ke level US$106,65 per barel di bursa ICE Futures Europe.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni terpangkas 1,72 atau 1,7 persen ke level US$102,07 per barel.

Patokan global Brent mencapai 139 dolar AS per barel bulan lalu, harga tertinggi sejak 2008, tetapi kedua kontrak acuan minyak turun hampir 5 persen pekan ini karena kekhawatiran permintaan.

Dana Moneter Internasional (IMF), yang minggu ini memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2022, diperkirakan menurunkan peringkatnya lebih lanjut jika negara-negara Barat memperluas sanksi mereka terhadap Rusia atas perangnya melawan Ukraina, dan harga energi naik lebih lanjut.

Sementara itu, Bloomberg melaporkan pemerintah Jerman akan memangkas perkiraan pertumbuhannya untuk 2022 menjadi 2,2 persen dari 3,6 persen, sementara permintaan bensin, solar, dan bahan bakar penerbangan di China pada April diperkirakan turun 20 persen dari tahun sebelumnya, ketika banyak kota-kota terbesar China termasuk Shanghai, berada dalam lockdown untuk menekan penyebaran Covid-19.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Kamis (21/4/2022) mengatakan kenaikan suku bunga AS 50 basis poin akan dibahas pada pertemuan kebijakan Fed berikutnya pada Mei. Hal ini  mendorong dolar AS ke level tertinggi lebih dari dua tahun. Greenback yang lebih kuat membuat minyak dan komoditas lainnya lebih mahal bagi mereka yang memegang mata uang lainnya.

"Pada tahap ini, kekhawatiran atas pertumbuhan China dan pengetatan berlebihan oleh The Fed, yang membatasi pertumbuhan AS, tampaknya menyeimbangkan kekhawatiran bahwa Eropa akan segera memperluas sanksi terhadap impor energi Rusia," kata analis broker OANDA Jeffrey Halley, dilansir Antara, Sabtu (23/4/2022).

Di sisi pasokan, Konsorsium Pipa Kaspia Rusia-Kazakh (CPC) diperkirakan akan melanjutkan ekspor penuh mulai 22 April setelah hampir 30 hari mengalami gangguan.

Sementara itu, jumlah rig minyak AS naik menjadi 549 minggu ini, jumlah tertinggi sejak April 2020, menurut laporan Baker Hughes Co.

Namun, keterbatasan pasokan memberikan dukungan karena Libya kehilangan produksi 550.000 barel per hari (bph) akibat gangguan. Pasokan diperkirakan menurun lebih lanjut jika Uni Eropa memberlakukan embargo pada minyak Rusia.

Sebuah sumber Uni Eropa mengatakan pekan ini bahwa Komisi Eropa tengah mempercepat ketersediaan pasokan energi alternatif, sementara seorang penasihat senior Gedung Putih mengatakan dia yakin Eropa bertekad untuk menutup atau membatasi lebih lanjut ekspor minyak dan gas Rusia.

Belanda mengatakan pihaknya berencana untuk berhenti menggunakan bahan bakar fosil Rusia pada akhir tahun ini.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak mentah harga minyak mentah harga minyak brent harga minyak mentah wti
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top