Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Philip Morris Targetkan 50 Persen Pendapatan dari Produk Bebas Asap

Selama 5 tahun terakhir, 29% pendapatan bersih perusahaan berasal dari produk bebas asap rokok, bukan produk yang dibakar (rokok).
Wahyu Arifin
Wahyu Arifin - Bisnis.com 22 April 2022  |  18:36 WIB
Loog Philip Morris International. - pmi.com
Loog Philip Morris International. - pmi.com

Bisnis.com, JAKARTA - Mengacu pada tanggung jawab pembangunan di bidang kesehatan dunia, raksasa rokok dunia Philip Morris International (PMI) melalui anak usahanya HM Sampoerna berkomitmen untuk mendorong masa depan bebas asap rokok. 

Stacey Kennedy, President, South & Southeast Asia Philip Morris International (PMI) mengatakan masa depan bebas asap dimulai perusahaan dengan menciptakan produk inovasi tembakau yang berkelanjutan. 

“Semua orang sadar rokok menyebabkan bahaya, tidak baik untuk kesehatan dan ada risikonya. Namun, upaya pemerintah melalui regulasi dan tindakan lain untuk membuat perokok berhenti belum berhasil. Jadi kami menciptakan inovasi untuk mengurangi risiko kesehatan perokok melalui produk tembakau yang dipanaskan dan tanpa asap,” kata Stacey saat ditemui Bisnis di kantor HM Sampoerna, di Jakarta, Kamis (21/4/2022). 

Stacey mengatakan, produk bebas asap rokok cukup memberikan sumbangsih besar bagi pendapatan perusahaan. Selama 5 tahun terakhir, 29% pendapatan bersih perusahaan berasal dari produk bebas asap rokok, bukan produk yang dibakar (rokok).

Selama ini, lanjut Stacey, bahaya dari rokok berasal dari pembakaran yang menghasilkan begitu banyak bahan kimia berbahaya berada di dalam asap. Melalui proses pemanasan tembakau dan bukan membakarnya akan mengurangi hingga 95% senyawa berbahaya dalam aerosol. 

“Itulah yang membuat (produk tembakau bebas asap) menjadi produk yang lebih baik dan perlu diterima oleh konsumen. Jadi kami mencoba membuatnya serupa dengan pengalaman merokok, tetapi dengan senyawa berbahaya yang jauh berkurang,” jelas Stacey. 

PMI sendiri memiliki produk tembakau bebas asap yang dinamakan IQOS dan sudah dipasarkan di 71 negara hingga 2021 kemarin. Selain untuk mengurangi bahaya pembakaran rokok, riset PMI mencatat Iebih dari 70 persen dari mereka yang telah beralih ke IQOS, menggunakannya untuk sepenuhnya berhenti merokok.

Stacey mengatakan memiliki 21,2 juta pengguna IQOS di akhir 2021 dan lebih dari 15 juta di antaranya telah sepenuhnya berhenti merokok. Baginya, ini sangat baik bagi konsumen karena merupakan alternatif yang lebih baik daripada terus merokok.

“Pada tahun 2025 kami berambisi bahwa 50% dari pendapatan bersih kami berasal dari produk bebas asap rokok dan bukan dari rokok. Kami memiliki visi bagi Indonesia, sehingga berinvestasi di fasilitas produksi ini bukan hanya untuk kepentingan masyarakat tapi juga bagi perekonomian Indonesia karena produknya nanti tetap menggunakan tembakau Indonesia dan akan diekspor,” tambah Stacey. 

PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) sendiri tahun 2021 lalu sudah mulai membangun pabrik rokok bebas asap di Karawang, Jawa Barat, Indonesia. Investasi untuk fasilitas tersebut totalnya senilai US$166,1 juta atau setara Rp 2,3 triliun (kurs Rp 14.300). Pabrik itu rencananya akan memproduksi batang tembakau bagi alas pemanas rokok IQOS, dengan merek HEETS.

Senada dengan Stacey, Presdir HM Sampoerna Mindaugas Trumpaitis mengatakan perusahaan ingin mencapai 100 negara yang akan disasar produk IQOS di tahun 2025. Saat ini, dari 71 negara pasar IQOS, lebih dari 30 negara di mana IQOS berada saat ini ialah negara-negara berkembang. 

“Investasi ini menunjukkan kepercayaan kami terhadap perekonomian Indonesia. Kami sepenuhnya selaras dengan prioritas pemerintah dalam mendorong ekspor, membuka lapangan pekerjaan dan transfer ilmu dan teknologi terkait inovasi produk tembakau yang dipanaskan tersebut,” kata Mindaugas.  

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hm sampoerna philip morris industri tembakau
Editor : Wahyu Arifin

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top