Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Ambruk, Nasdaq Paling Rontok Merespons Sikap Hawkish The Fed

Investor mencermati pernyataan Gubernur Federal Reserve Lael Brainard yang mengindikasikan pembuat kebijakan siap bertindak lebih agresif untuk mengendalikan inflasi.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 06 April 2022  |  05:37 WIB
Monitor menampilkan informasi pasar saham di Nasdaq MarketSite di New York, AS, Jumat (28/1/2022). Bloomberg - Michael Nagle
Monitor menampilkan informasi pasar saham di Nasdaq MarketSite di New York, AS, Jumat (28/1/2022). Bloomberg - Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat jatuh pada penutupan perdagangan Selasa (5/4/2022) waktu setempat terseret oleh pelemahan saham emiten teknologi.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (6/4/2022), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,80 persen atau 280,70 poin ke 34.641,18, S&P 500 anjlok 1,26 persen atau 57,52 poin ke 4.525,12, dan Nasdaq turun 2,26 persen atau 328,39 poin ke 14.204,17.

Investor mencermati pernyataan Gubernur Federal Reserve Lael Brainard yang mengindikasikan pembuat kebijakan siap bertindak lebih agresif untuk mengendalikan inflasi. Investor juga memantau laporan yang mengindikasikan AS dan Uni Eropa diperkirakan akan mengungkap lebih banyak sanksi terhadap Rusia pada Rabu waktu setempat.

Nasdaq Composite mencatat penurunan terbesar dalam tiga minggu dan menghapus kenaikan dari reli teknologi yang membantu indeks naik pada Senin (4/4/2022). Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak menjadi 2,56 persen, level tertinggi sejak Mei 2019.

Lael Brainard, yang sedang menunggu pemungutan suara konfirmasi untuk menduduki peran nomor dua bank sentral, mengatakan bahwa The Fed kemungkinan akan mulai menyusutkan kepemilikan aset dalam waktu sekitar satu bulan. Ini bisa menjadi langkah yang berdampak pada kenaikan suku bunga jangka panjang lebih lanjut.

“Saat ini, inflasi terlalu tinggi dan memiliki risiko terbalik. Komite siap untuk mengambil tindakan yang lebih kuat jika indikator inflasi dan ekspektasi inflasi menunjukkan bahwa tindakan tersebut diperlukan,” kata Brainard.

Investor terus memantau perang di Eropa Timur dan mempertimbangkan laporan bahwa Uni Eropa diperkirakan akan menjatuhkan sanksi lagi terhadap Rusia. Dalam pidatonya di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa (5/4/2022), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh pasukan Rusia melakukan kejahatan perang paling mengerikan sejak Perang Dunia II.

Sentimen lainnya, Deutsche Bank menjadi bank besar pertama yang memperkirakan resesi Amerika pada tahun depan jika kebijakan Federal Reserve memukul ekonomi terlalu keras.

“Kami tidak lagi melihat The Fed mencapai soft landing. Sebaliknya, kami mengantisipasi bahwa pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif akan mendorong ekonomi ke dalam resesi,” tulis ekonom Deutsche Bank dalam sebuah catatan.

Peringatan itu datang karena investor mengamati dengan cermat sebagian dari kurva imbal hasil treasury AS yang terbalik minggu lalu, sebuah fenomena yang memiliki sejarah dalam memprediksi resesi. Masing-masing dari delapan resesi terakhir sejak tahun 1969 secara historis didahului oleh inversi kurva imbal hasil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street dow jones Kebijakan The Fed nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top