Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sambut Hari Bumi 20 Maret, Gojek dan GoTo Financial Dampingi UMKM Manfaatkan Minyak Jelantah Jadi Sabun

Workshop pengelolaan limbah minyak jelantah ini merupakan bagian dari edukasi GoGoreener, program dari GoTo.
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 18 Maret 2022  |  15:58 WIB
Sambut Hari Bumi 20 Maret, Gojek dan GoTo Financial Dampingi UMKM Manfaatkan Minyak Jelantah Jadi Sabun
Foto: dok GoTo
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penggunaan minyak bekas penggorengan atau minyak jelantah (used cooking oil) berulang kali di Indonesia masih menjadi tren di rumah tangga. Selain merugikan kesehatan, limbah hasil pembuangan minyak jelantah dapat merusak lingkungan. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk ramah lingkungan seperti sabun menjadi salah satu aksi kecil dan nyata yang dapat dilakukan oleh masyarakat.

Ini menjadi topik utama dalam GoGreener Workshop yang diselenggarakan Akademi Mitra Usaha (KAMUS) dari Gojek dan GoTo Financial yang bertema “#DariAksiKecil Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Ramah Lingkungan”, menyambut Hari Bumi yang diperingati PBB tiap tanggal 20 Maret.

Seminar dan workshop ini menghadirkan Santi Novianti, Organic SkinCare Head Division Kertabumi Recycling Center sebagai pembicara dan trainer. Kertabumi adalah perusahaan sosial berbasis komunitas berbasis di Jakarta yang mempunyai misi mencari solusi permasalahan lingkungan di Indonesia melalui riset, kampanye dan pelatihan.

Tak hanya mendapat edukasi sederhana untuk memanfaatkan minyak jelantah yang tidak terpakai, Mitra Usaha atau merchant Gojek dan GoTo Financial juga berkesempatan praktik langsung dengan bahan-bahan sederhana untuk mengubah minyak jelantah menjadi sabun organik.

Santi menjelaskan, Minyak jelantah sangat bisa digunakan untuk membuat produk sabun karena sudah melewati proses pemanasan. Setelah penggunaan maksimal tiga kali, baiknya minyak jelantah memang tidak digunakan lagi karena dapat membahayakan kesehatan seperti karsinogenik dan kandungan gizi makanan yang dimasak jadi berkurang. Alih-alih mau irit, kita tidak dapat vitamin, protein, dan berbagai zat berguna lainnya, bahkan dapat penyakit yang lebih parah seperti kanker.”

Menanggapi antusiasme merchant selama workshop, Head of Merchant Partnership and Brand Strategy Gojek Putri Rusli menjelaskan, “Sesuai komitmen keberlanjutan dari GoTo khususnya Zero Waste, Gojek dan GoTo Financial terus berupaya mendampingi para mitra usaha untuk mengurangi dan mendaur ulang limbah dalam proses bisnis dan rumah tangga mereka.

Bermitra dengan Kertabumi Recycling Center untuk pemanfaatan barang-barang yang ada di rumah, kami berharap workshop #DariAksiKecil ini menjadi menjadi langkah konkret terhadap kelestarian lingkungan Indonesia."

Ia menjelaskan, workshop pengelolaan limbah minyak jelantah ini merupakan bagian dari edukasi GoGoreener, program dari GoTo yang mengajak dan memfasilitasi pelanggan, mitra usaha, mitra driver di ekosistemnya untuk dapat melakukan aksi yang lebih ramah  lingkungan. Edukasi GoGreener lewat serial workshop #DariAksiKecil dilaksanakan selama empat kali selama Februari-April 2022 dan diharapkan dapat menjangkau ribuan pelaku usaha dan masyarakat umum. 

Foto: dok. GoTo

Dengan teknik cold press, beberapa barang yang digunakan selama workshop di antaranya yakni:

  • Alat-alat keamanan (masker, goggle, dan sarung tangan)
  • Wadah non-aluminium atau non-kaca serta pengaduk (dapat berupa hand blender atau pengocok telur, tergantung ketersediaan dirumah)
  • Soda api dan minyak jelantah sebagai bahan utama
  • Spatula silicone atau sendok stainless
  • Timbangan digital dan sendok ukur untuk kemudahan pengukuran
  • Wadah untuk cetakan sabun (Dapat berupa akrilik atau kayu yang dilapisi Kertas minyak dan plastik wrap)

Berdasarkan studi yang dilakukan Kertabumi lewat berbagai sumber, sabun hasil minyak jelantah aman, bahkan telah melewati standar nasional di Indonesia. Terdapat beberapa langkah yang dapat diikuti untuk membuat sabun dengan cara sederhana menggunakan alat-alat yang ada di rumah

  • Membuat larutan soda api yang membutuhkan waktu 20 menit diawal untuk menunggu suhu larutan dari 80-90 celcius turun sesuai suhu ruangan.
  • Setelah larutan soda api mendingin, larutan dapat dicampurkan pada minyak jelantah dalam wadah non aluminium untuk kemudian diaduk sekitar 5-10 menit.
  • Proses menggunakan alat-alat yang ada di rumah seperti hand blender atau pengocok telur.
  • Pada saat adonan berubah warna, adonan akan mengental dan siap untuk dituangkan dalam cetakan. Seiring adonan yang semakin keras seiring waktu, penting untuk menjaga agar tekstur adonan jangan terlalu kental nanti tidak kesulitan untuk masuk dalam cetakan.
  • Setelah 12-24 jam, sabun dapat dibentuk sesuai keinginan, memotong-motong dengan pisau yang steril, dan memberikan rasa tambahan seperti kopi bubuk, bunga kelor, cokelat bubuk dan perasa lainnya.
  • Setelah dibentuk, sabun hasil buatan akan membutuhkan waktu proses netralisasi asam dan basa atau curing time untuk bisa digunakan, selama minimal 4-6 minggu.
  • Merchant dapat menyimpan hasilnya pada rak buku atau ruangan dengan sirkulasi udara yang baik sehingga kandungan air dalam sabun dapat menguap, pH menurun, dan sabun segera menjadi padat dan siap digunakan.

Santi memaparkan “Merchant dapat memilih bahan dari sabun yang akan dibuat, bahkan dapat menambah menu bahan lainnya seperti olive oil. Proses saponifikasi atau pembuatan sabun yang dilakukan juga dapat menjaga kadar glycerin yang tinggi dalam sabun, yang umumnya terdapat pada produk makeup premium untuk melembabkan kulit. Selain itu, proses pembuatan sabun juga tidak menghasilkan limbah dan tanpa produk kimia sintetis berbahaya, sehingga akan terurai di air dan tidak mengganggu biota air.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

go green Gojek Goto
Editor : Media Digital
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top