Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terpicu Ancaman Nuklir Rusia, Dolar AS Melambung

Dolar AS melambung tinggi dibandingkan dengan mata uang lainnya dengan indeks dolar AS menembus 97 poin lantaran dipicu dampak konflik antara Ukraina dan Rusia yang makin dalam.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 28 Februari 2022  |  11:34 WIB
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (3/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (3/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar AS melambung tinggi dibandingkan dengan mata uang lainnya dengan indeks dolar AS menembus 97 poin lantaran dipicu dampak konflik antara Ukraina dan Rusia yang makin dalam.

Mengutip data Bloomberg, Senin (28/2/2022), indeks dolar AS melambung 0,75 persen ke level 97,33. Krone Norwegia dan krone Swedia melorot lebih dari 2 persen, mencatat kinerja terburuk di antara mata uang negara-negara G-10 dan pedagang bersiap risikonya melebar sampai ke Asia.

“Dolar AS jadi raja, menawarkan likuiditas dan fungsi sebagai safe haven. Karena ketika ada masalah melanda memang perlu untuk mencari aset perlindungan,” ungkap Rodrigo Catril, Ahli Strategi Mata Uang di National Australia Bank Ltd. di Sydney, dilansir Bloomberg, Senin (28/2/2022).

Lonjakan pada indeks dolar AS terjadi setelah negara-negara Barat meningkatkan sanksi kepada Rusia atas serangannya ke Ukraina. Para investor kemudian mulai mencari aset perlindungan seiring dengan volatilitas pasar yang melonjak, yang menambah tekanan pada inflasi global.

Selain itu, Obligasi Global juga reli, dengan imbal hasil Treasury AS untuk tenor 10 tahun turun 5 basis poin menadi 1,91 persen. Sementara, imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun merosot 10 basis poin.

"Eropa sudah menanggung beban dampak awal invasi, dengan biaya energi yang makin mahal merugikan konsumen dan tingkat sanksi menekan pertumbuhan ekonomi Eropa, dengan efek knock-on untuk prospek pertumbuhan AS," kata Scott Glasser, Kepala Investasi di Clearbridge Investments and dan ahli investasi Jeff Schulze.

Tanda-tanda ketegangan dari pasar uang juga makin jelas dengan pada awal perdagangan Senin terlihat spreadnya melebar untk kontrak jangka pendek euro-dollar. Kesenjangan antara suku bunga Libor dan Fed juga melemah 9 basis poin untuk kontrak satu bulan, terbesar sejak Maret 2020.

Saat ini, investor tengah memusatkan perhatian pada keputusan negara-negara Barat untuk mengecualikan beberapa bank Rusia yang ditendan dari platform SWIFT. Platform tersebut digunakan untuk transaksi bernilai triliunan dolar di seluruh dunia.

Pasalnya, Ahli Strategi Credit Suisse Group AG Zoltan Pozsar mengatakan, larangan penggunaan SWIFT aan mengakibatkan pembayaran terlewat dan ada lubang raksasa dalam sistem perbankan Internasional. Otoritas moneter harus memulai kembali operasi harian untuk menyuntikkan dolar AS ke pasar.

“Rusia juga memiliki sekitar US$300 miliar mata uang asing yang disimpan di luar negeri, jumah itu cukup untuk mengganggu pasar uang jika dibekukan oleh sanksi atau dipindahkan tiba-tiba untuk menghindarinya,” kata Pozsar. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi dolar as Rusia Ukraina
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top