Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Cermati Sanksi Terhadap Rusia, Bursa Saham dan Rubel Melesat Naik!

Indeks saham utama Rusia, MOEX, naik 15 persen pada 14.44 waktu setempat. Sementara itu, mata uang rubel menguat 2,1 persen terhadap dolar AS.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 25 Februari 2022  |  20:09 WIB
Mural Gerakan Nasional Kadet Angkatan Darat Muda di Moskwa, Rusia, Kamis (24/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk "demiliterisasi" Ukraina, yang memicu kecaman internasional dan ancaman AS akan "sanksi berat" lebih lanjut terhadap Moskwa.  - Bloomberg/Andrey Rudakov
Mural Gerakan Nasional Kadet Angkatan Darat Muda di Moskwa, Rusia, Kamis (24/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk "demiliterisasi" Ukraina, yang memicu kecaman internasional dan ancaman AS akan "sanksi berat" lebih lanjut terhadap Moskwa. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Rusia dan mata uang rubel menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (25/2/2022), menghentikan penurunan paling dalam sepanjang sejarah karena sanksi terhadap Rusia tampaknya tidak terlalu parah dari yang diperkirakan sejumlah pihak.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks acuan MOEX naik 15 persen pada 14.44 waktu setempat, sedangkan rubel menguat 2,1 persen terhadap dolar AS.

Indeks acuan anjlok hingga 45 persen sehari sebelumnya, Kamis (24/2/2022), setelah Rusia melancarkan serangannya ke Ukraina. Rubel juga anjlok ke level terendah sepanjang masa kemarin..

Namun, sanksi baru terhadap bank-bank Rusia mendorong penurunan obligasi dan menghapus setengah dari valuasi saham dua bank terbesar di Rusia pekan ini. Surat utang pemerintah daerah juga melanjutkan penurunannya, dengan imbal hasil obligasi 10-tahun melonjak lebih dari satu poin persentase.

Sanksi AS yang dijatuhkan pada Kamis, yang menargetkan bank dan impor teknologi, merupakan yang terberat bagi Rusia. Sanksi tersebut juga memangkas sumber pendapatan penting bagi Moskow dari energi, dan memblokir Rusia dari jaringan perbankan internasional Swift.

“Kemarin, pasar memperkirakan [AS akan menjatuhkan] opsi sanksi nuklir. Pagi ini kita melihat investor kembali karena sanksi yang diumumkan tidak separah yang diperkirakan pasar," ungkap Luis Saenz, kepala distribusi internasional di Sinara, dilansir Bloomberg, Jumat (25/2/2022).

Sanksi AS menargetkan dua bank terbesar Rusia, Sberbank PJSC dan VTB Bank PJSC. Adapun VTB Bank mendapat sanksi pemblokiran penuh. Sebagai tanggapan, bank sentral Rusia mengatakan siap mendukung kedua bank. Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, bank sentral mengatakan akan menaikkan batas lelang repo menjadi 3 triliun rubel (US$35,8 miliar).

Saham Sberbank naik 11 persen, meskipun setengah valuasinya telah hilang dalam sepekan terakhir. Nasib yang sama juga dialami VTB yang siap untuk penurunan mingguan 50 persen.

Imbal hasil obligasi 10 tahun Rusia berdenominasi rubel naik 99 basis poin menjadi 13,15 persen. Ini merupakan penguatan selama enam sesi berturut-turut dan telah naik lebih dari 300 basis poin dalam sepekan.

Kepala strategi investasi ITI Capital Iskander Lutsko mengatakan investor memiliki ruang bernapas sementara untuk perdagangan jangka pendek dalam aset murah seperti saham bluechip, rubel, obligasi pemerintah dan obligasi korporasi.

“Tetapi risiko eskalasi tetap ada,” imbuhnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia rubel Perang Rusia Ukraina
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top