Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Berakhir Hijau, Musim Laba Emiten Tunjukkan Pemulihan

S&P 500 menghasilkan margin laba bersih 12,4 persen saat ini, berdasarkan data dari 54 persen perusahaan yang telah melaporkan hasil kuartal IV/2021.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 09 Februari 2022  |  06:13 WIB
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat parkir di zona hijau pada akhir perdagangan Selasa (8/2/2022) waktu setempat karena investor terus menimbang dampak pengetatan moneter bank sentral The Fed terhadap pendapatan emiten.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (9/2/2022), indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,06 persen atau 371,65 poin ke 35.462,78, S&P 500 naik 0,84 persen atau 37,67 poin ke 4.521,54, dan Nasdaq melejit 1,28 persen atau 178,79 poin ke 14.194,45.

Terlepas dari volatilitas baru-baru ini, Nicholas Colas dan Jessica Rabe dari DataTrek Research menunjukkan bahwa S&P 500 menghasilkan margin laba bersih 12,4 persen saat ini, berdasarkan data dari 54 persen perusahaan yang telah melaporkan hasil kuartal IV/2021. Angka tersebut mengalahkan puncak pra-pandemi sebesar 12,0 persen pada kuartal III/2018.

“Apa yang kami lihat dari sini adalah laju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Pasar masih akan melihat konsumen, yang sangat tangguh didukung oleh penghematan berlebih, normalisasi rantai pasokan untuk meningkatkan inventaris dan produksi, dan pasar kita memiliki neraca perusahaan yang masih sangat kuat,” kata kepala strategi Principal Global Advisors Seema Shah kepada Yahoo Finance Live.

Hasil kuartal keempat 2021 yang beragam dari raksasa teknologi AS telah membebani investor dalam beberapa pekan terakhir. Ini lantaran mereka sudah bergulat dengan The Fed yang bersiap untuk memperketat kondisi moneter dan menaikkan suku bunga secepatnya bulan depan.

“Kami, sebagai investor yang memperhatikan apa yang terjadi di perusahaan-perusahaan ini, hanya perlu menyadari bahwa banyak yang bisa berubah,” kata ahli strategi pasar global JPMorgan Asset Management Jack Manley.

Saham mengalami gejolak minggu lalu setelah pandangan mengecewakan dari Meta Platforms (FB) mengirim perusahaan tersebut ke dalam kejatuhan saham satu hari terbesar dalam sejarah pasar, menyeret rekan-rekan teknologi lainnya turun dalam aksi jual yang lebih luas.

Namun pasar saham akirnnya menguat kembali dikalahkan oleh laporan keuangan Amazon (AMZN). Laporan kinerja lainnya menanti investor minggu ini dari perusahaan termasuk Disney (DIS), Uber (UBER) dan Coca-Cola (KO).

Indeks Harga Konsumen (CPI) akan diawasi dengan ketat pada Kamis (10/2/2022) dan kemungkinan akan menunjukkan angka inflasi multi-dekade yang tinggi, angka yang dapat mendorong The Fed untuk menegaskan sikap yang lebih hawkish. Ekonom memperkirakan CPI utama mencetak 7,3 persen pada Januari 2022 dibandingkan tahun lalu, yang akan menandai kenaikan tercepat sejak 1982, menurut perkiraan konsensus yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street dow jones nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top