Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menjadi Beban, Akankah Bukalapak (BUKA) Keluar dari Indeks LQ45?

Analis menyebutkan ada peluang saham Bukalapak (BUKA) keluar dari Indeks LQ45, meskipun ada sejumlah pihak yang memprediksi BUKA masih akan bertahan.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 24 Januari 2022  |  13:33 WIB
Pekerja melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (12/8/2020). Bisnis - Abdurachman
Pekerja melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (12/8/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Saham PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) menjadi beban bagi laju indeks LQ45 karena terkoreksi 14,42 persen sampai dengan Jumat (21/1). Akankah emiten teknologi unikorn itu didepak dari indeks LQ45?

Sebagai informasi, BUKA berada pada posisi buncit diantara 45 emiten dalam indeks paling likuid tersebut. Berdasarkan data Bloomberg, (21/1), saham BUKA ditutup pada level Rp368 pekan lalu. Emiten teknologi itu selama tahun berjalan telah terkoreksi 14,42 persen.

Analis Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta mengatakan terdapat kemungkinan BUKA bakal didepak oleh bursa keluar dari LQ45. Posisinya kemungkinan bakal digantikan oleh emiten bank digital yaitu PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) atau PT Bank Jago Tbk. (ARTO).

Selain BUKA, lanjutnya, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) juga akan berpotensi ditendang keluar. “Saham yang baru masuk ke indeks LQ45 dan IDX30 atau mengalami penambahan bobot akan diprediksi mengalami kenaikan dan yang keluar dari indeks LQ45 dan IDX30 atau mengalami pengurangan bobot akan cenderung turun,” katanya Senin (24/1/2022).

Di sisi lain, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai belum ada potensi Bukalapak keluar dari indeks LQ45. Meskipun perseroan sejauh ini justru menjadi beban bagi pergerakan indeks favorit itu.

“LQ45 kan isinya emiten yang likuiditas tinggi, kalau masih likuid perdagangannya, mestinya tidak keluar sih,” katanya kepada Bisnis Senin (24/1/2022).

Adapun ketika dikonfirmasi ke BEI, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo menegaskan bahwa saham emiten teknologi itu masih dalam kondisi likuid.

“BUKA masuk dalam kondisi likuid,” ungkapnya. Meski demikian, dia tidak ingin membeberkan secara terperinsi kriteria keluar dan masuk indeks LQ45.

Menurutnya ada syarat-syaratnya yang tidak pernah disebutkan oleh Bursa secara spesifik. Syarat itu baik dari segi likuiditas, fundamental, dan lain-lain.

Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia memasukkan saham PT Bukalapak.com Tbk. ke dalam lima indeks sekaligus.

Emiten berkode saham BUKA langsung masuk dalam indeks IDX30, LQ45, IDX80, JII dan JII70. Emiten teknologi itu menggeser beberapa saham demi mendapatkan tiket konstituen.

Diantaranya adalah TKIM, SMRA, LINK, AKRAdan ULTI. Adapun periode efektif mulai 29 September sampai dengan Januari 2022.

Sebagaimana diketahui BEI melakukan evaluasi fast entry sebelum memasukkan saham Bukalapak ke dalam indeks tersebut. Regulator menilai rasio free float emiten teknologi itu mencapai 44 persen sehingga dapat menggeser konstituen lain.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Indeks BEI lq45 bukalapak
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top