Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Seperti Bukalapak (BUKA), Mitratel (MTEL) Berpotensi Masuk Indeks LQ45 via Jalur Cepat

Mitratel (MTEL) berpotensi masuk Indeks LQ45 seperti Bukalapak (BUKA) lewat fast entry, yakni jalur pintas bagi emiten untuk masuk dalam sebuah indeks yang dibuat oleh Bursa Efek Indonesia.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 23 Januari 2022  |  13:44 WIB
(Ki-Ka) Direktur Operasi dan Pembangunan Mitratel Pratignyo Arif Budiman, Direktur Bisnis Mitratel Noorhayati Candrasuci, Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko, Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Mitratel Ian Sigit Kurniawan saat press conference pencatatan saham perdana di Jakarta, Senin (22/11/2021) - Dok. Perusahaan
(Ki-Ka) Direktur Operasi dan Pembangunan Mitratel Pratignyo Arif Budiman, Direktur Bisnis Mitratel Noorhayati Candrasuci, Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko, Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Mitratel Ian Sigit Kurniawan saat press conference pencatatan saham perdana di Jakarta, Senin (22/11/2021) - Dok. Perusahaan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten anyar PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel berpotensi masuk indeks LQ45 lewat jalur fast entry seperti Bukalapak.

Fast entry adalah jalur pintas bagi emiten untuk masuk dalam sebuah indeks yang dibuat oleh Bursa Efek Indonesia. Operator bursa itu melakukan penyesuaian atas kriteria pemilihan konstituen indeks yang memungkinkan emiten dapat dipertimbangkan segera masuk ke dalam indeks.

Terdapat tiga kriteria untuk suatu emiten bisa mendapatkan fast entry. Pertama, telah tercatat minimal 20 Hari Bursa. Kedua, memiliki kapitalisasi pasar free float minimal berada pada peringkat 5 atau minimal 2 persen dari total kapitalisasi pasar free float Indeks IDX30.

Ketiga, memenuhi kriteria dan mengikuti proses seleksi Indeks IDX30 yang ditentukan oleh BEI. Bila suatu emiten dapat memenuhi kriteria tersebut, maka akan masuk sebagai konstituen indeks.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan Mitratel paling berpotensi masuk LQ45 menggunakan fast entry. Selain itu, dia juga menjagokan PT Bank Jago Tbk. (ARTO).

“Saya proyeksikan ARTO bisa masuk LQ45, MTEL mungkin bila masuk kriteria fast entry, untuk saham keluar bisa dari sektor konstruksi,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

Menurutnya kedua emiten pas untuk masuk dalam indeks paling cair itu. Pasalnya, saham-saham penggerak LQ45 adalah keuangan, telekomunikasi, consumer good, dan idustri otomotif.

Wawan mengatakan sektor-sektor itu diuntungkan oleh pemulihan ekonomi dan juga insentif yang diberikan pemerintah seperti diskon PPNBM. “Untuk sektor-sektor ini saya melihat akan baik kinerjanya di tahun ini,” katanya.

Dengan demikian, investor asing akan terpancing ke dalam sektor tersebut. Terutama perbankan, komoditas dan telekomunikasi.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia memasukkan saham PT Bukalapak.com Tbk. ke dalam lima indeks sekaligus.

Emiten berkode saham BUKA langsung masuk dalam indeks IDX30, LQ45, IDX80, JII dan JII70. Emiten teknologi itu menggeser beberapa saham demi mendapatkan tiket konstituen.

Diantaranya adalah TKIM, SMRA, LINK, AKRAdan ULTJ. Adapun periode efektif mulai 29 September sampai dengan Januari 2022.

Sebagaimana diketahui BEI melakukan evaluasi fast entry sebelum memasukkan saham Bukalapak ke dalam indeks tersebut. Regulator menilai rasio free float emiten teknologi itu mencapai 44 persen sehingga dapat menggeser konstituen lain.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI mitratel lq45 bukalapak
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top