Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Fokus ke Lapkeu Emiten, Wall Street Menghijau Awal Perdagangan

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,88 persen ke level 35.336,32, sedangkan indeks S&P 500 menguat 1,4 persen ke 4.580,02 dan Nasdaq Composite naik 1,62 persen ke 14.572,44.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 Januari 2022  |  22:11 WIB
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menguat pada awal perdagangan hari ini, Kamis (20/1/2022) di saat investor mengalihkan fokus ke laporan kinerja emiten.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,88 persen ke level 35.336,32, sedangkan indeks S&P 500 menguat 1,4 persen ke 4.580,02 dan Nasdaq Composite naik 1,62 persen ke 14.572,44.

Saham-saham sector teknologi dan internet AS menguat sebelum Netflix Inc. merilislaporan keuangan. Saham Alcoa Corp juga naik pada awal perdagangan setelah produsen aluminium tersebut memperkirakan peningkatan permintaan dan memperingatkan bahwa setiap konflik antara Rusia dan Ukraina dapat memperdalam kendala pasokan yang ada.

Imbal hasil Treasury AS turun, tetapi tetap lebih tinggi sepanjang pekan ini di tengah kekhawatiran terhadap peningkatan inflasi dan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Tema dominan di pasar masih seputar prospek kenaikan suku bunga The Fed dan kemungkinan pengurangan neraca mulai tahun 2022. Di sisi lain, pengurangan stimulus yang terlalu besar mengancam meningkatkan volatilitas di berbagai kelas aset.

Kepala ekonom First Abu Dhabi Bank mengatakan fokus pasar masih berkisar pada Fed dan serangan dua arah yang diantisipasi dari kenaikan suku bunga dan pengurangan neraca.

“Kami perkirakan sentiment tersebut dapat membuat tingkat ketidakpastian tetap tinggi dan volatilitas melonjak selama beberapa pekan/bulan mendatang," tulis Simon, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (20/1/2022).

Sementara itu, departemen tenaga kerja AS menunjukkan klaim pengangguran baru naik minggu lalu ke level tertinggi tiga bulan, menunjukkan bahwa varian omicron memiliki dampak yang lebih besar terhadap pasar tenaga kerja.

Sementara itu, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengatakan ECB memiliki "segala alasan" untuk bersikap sama dengan The Fed dalam merespons lonjakan inflasi.

Analis pasar senior RiverFront Investment Group Rebecca Felton mengatakan musim laporan keuangan sejauh ini sedikit kurang mulus, dan investor perlu memantau komentar dari perusahaan tentang tekanan harga dan upah.

"Kami percaya saham dapat terus naik lebih tinggi bahkan ketika The Fed mengubah kebijakan," katanya.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top