Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Emiten Rokok HMSP dan GGRM Diprediksi Kena Efek Downtrading pada 2022

Sepanjang 2021, porsi penjualan rokok di bawah Tier 1 terhadap total volume penjualan sigaret kretek mesin telah meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi - Bisnis.com 07 Desember 2021  |  13:35 WIB
Emiten Rokok HMSP dan GGRM Diprediksi Kena Efek Downtrading pada 2022
Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) Mindaugas Trumpaitis (kedua kiri), mantan Direktur Keuangan Michael Sandritter (kiri), Direktur Keuangan William "Bill" Giff (kedua kanan) dan Direktur Urusan Eksternal Yos Adiguna Ginting berbincang seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Rabu (27/4/2017). - ANTARA FOTO/Adiguna
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Efek downtrading atau perpindahan konsumsi perokok ke produk dengan cukai dan harga yang lebih murah diperkirakan masih akan mempengaruhi kinerja emiten rokok pada 2022.

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya mencatat, hingga sembilan bulan 2021, volume penjualan industri rokok secara keseluruhan tumbuh 7,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) atau mencapai 216,8 miliar batang.

"Volume penjualan rokok secara keseluruhan meningkat seiring dengan meredanya situasi pandemi dan pemulihan situasi ekonomi," kata Christine dalam risetnya, dikutip Selasa (7/12/2021).

Namun, menurutnya tren downtrading masih akan berlanjut pada 2022. Dia menilai sepanjang 2021, porsi penjualan rokok di bawah Tier 1 terhadap total volume penjualan sigaret kretek mesin telah meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun pihaknya tidak memiliki data terbaru, Mirae Asset Sekuritas melihat pada kuartal I/2021 pangsa pasar produsen rokok di bawah tier 1 telah mencapai 29,5 persen, dibandingkan 22 persen pada kuartal I/2020. Hal ini disebabkan perokok berpenghasilan rendah mengkonsumsi merek yang lebih murah.

"Kami percaya penurunan terus berlanjut pada kuartal III/2021, sebagaimana dikonfirmasi lebih lanjut oleh produk Dji Sam Soe PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang penjualannya turun 13,6 persen yoy, terutama Magnum Mild," ujar dia.

Menurutnya, turunnya penjualan rokok milik HMSP tersebut disebabkan oleh perokok yang melakukan downtrading ke merek rokok di bawah tier 1.

Selain itu, lanjut Christine, HMSP menyatakan persaingan tidak hanya datang dari pemain kecil, tetapi juga dari pabrikan besar yang masuk ke segmen tersebut.

Adapun Mirae Asset merekomendasikan tahan untuk dua saham emiten rokok, yakni PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP), dengan target price masing-masing di Rp33.000 dan Rp1.030.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham hmsp emiten rokok ggrm
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top