Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Anjlok Tertekan Sinyal Dovish The Fed

Dolar AS memlemah menyusul rencana tapering The Fed dan sonyal dovish yang ditunjukkan Jerome Powell.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 28 Agustus 2021  |  06:18 WIB
Karyawan menunjukan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar AS merosot dalam perdagangan akhir pekan Jumat (27/8/2021) setelah pelaku pasar bereaksi terhadap pidato Ketua Bank Sentral AS (The Fed) Jerome Powell yang bernada dovish. 

Dovish adalah kemungkinan untuk menunda kenaikan suku bunga atau melakukan kebijakan moneter longgar.

Indeks dolar AS yang diukur dengan greenback terhadap enam mata uang utama anjlok 0,39 persen menjadi 92,6893 semalam, mengutip Antara.

Di sisi lain, mata uang euro meningkat menjadi 1,1793 dolar dari 1,1753 dolar AS pada perdagangan sebelumnya dan pound Inggris naik menjadi 1,3767 dolar dari 1,3695 dolar AS. Dolar Australia melonjak menjadi 0,7311 dolar AS dari 0,7238 dolar AS.

Dolar AS dibeli senilai 109,92 yen Jepang lebih rendah dari sesi sebelumnya 110,02 yen. Dolar AS juga turun menjadi 0,9115 franc Swiss dari 0,9181 franc dan anjlok menjadi 1,2619 dolar Kanada dari sebelumnya 1,2684 dolar Kanada.

Pasar bereaksi setelah Powell pada Jumat dalam Simposium Tahunan Jackson Hole Ekonomi yang digelar Bank Federal Kansas City menyatakan bahwa Bank Federal dapat melakukan tapering (pengurangan) pembelian aset tahun ini setelah bank sentral itu menilai secara hati-hati terhadap risiko dari varian Delta.

Ketua Fed juga memperingatkan bahwa pergerakan untuk memulai tapering pembelian aset tidak boleh diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa kenaikan suku bunga akan segera menyusul.

"Waktu dan laju pengurangan pembelian aset yang akan datang tidak akan ditujukan untuk membawa sinyal langsung mengenai waktu kenaikan suku bunga, di mana kami telah mengartikulasikan tes yang berbeda dan secara substansial lebih ketat," kata Powell, mengutip Bloomberg.

"Investor bernafas lega karena Powell menyarankan pengetatan Fed yang lebih baik dan lebih lembut," kata Mike Bailey, direktur penelitian di FBB Capital Partners.

“Menilai dari pergerakan ekuitas, menurut saya investor arus utama mengharapkan garis yang lebih keras dari Powell tentang pengurangan mulai musim gugur dan kenaikan suku bunga dikunci untuk akhir 2022 atau awal 2023.”

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as dolar Suku Bunga federal reserve

Sumber : Antara, Bloomberg

Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top