Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

UOB AM Optimistis Tidak Ada Capital Flight, Asing Tetap Buru SUN RI

UOB AM menilai dalam jangka panjang masih ada peluang potensi inflows dari investor asing terutama jika kondisi Covid-19 dalam negeri terkendali.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 25 Agustus 2021  |  14:01 WIB
Karyawan memantau pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan manajer investasi, di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
Karyawan memantau pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan manajer investasi, di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – UOB Asset Management Indonesia menilai setelah penetapan burden sharing, penerbitan surat utang negara (SUN) di pasar regular akan berkurang.

Chief Investment Officer UOB Asset Management Indonesia Albert Z Budiman mengatakan pasca penerbitan burden sharing, Bank Indonesia akan tetap membeli SUN. Menurutnya total penerbitan oleh pemerintah masih dalam jumlah realtif sama.

Selain itu jumlah penerbitan yang dilakukan melalui pasar regular akan berkurang. “Dengan asumsi permintaan masih relatif sama, kami melihat hal ini menjadikan hal yang positif terhadap pergerakan harga SUN,” katanya kepada Bisnis Rabu (25/8/2021).

UOB AM, lanjutnya, kini berfokus pada SUN yang sedang berjalan dengan tenor medium antara tiga sampai tujuh tahun. Pihaknya akan terus mencermati kondisi pasar sambil mengamati perkembangan kebijakan moneter The Fed.

Albert mengatakan saat ini tapering menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh semua pihak. Meskipun kondisi makro ekonomi Indonesia jauh lebih baik bila dibandingkan pertama kali tapering terjadi pada 2013.

“Kepemilikan investor asing di SUN dalam posisi terendah mencapai 22 persen dan imbal hasil yang ditawarkan SUN adalah yang tertinggi dibandingkan dengan negara pada rating yang sama. Maka kami tidak terlalu khawatir terhadap resiko capital flight,” jelasnya.

Albert menambahkan ada beberapa faktor yang dapat mendukung SUN untuk tetap menarik. Misalnya kondisi inflasi yang sangat terkendali, rupiah yang cenderung stabil, dan kondisi likuiditas pasar yang masih berlimpah.

“Kami melihat dalam jangka panjang masih ada peluang potensi inflows dari investor asing terutama jika kondisi covid dalam negeri makin terkendali dan kembali dibukanya kegiatan ekonomi,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obligasi negara surat utang negara burden sharing
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top