Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pungutan Bea Ekspor Bakal Dipangkas, Begini Jurus SGRO & AALI

Bea keluar yang terlalu tinggi pun dapat membatasi peluang emiten untuk mendulang pertumbuhan kinerja yang impresif.
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana pemangkasan pungutan ekspor diyakini dapat menjadi peluang emiten eksportir minyak sawit atau CPO untuk memaksimalkan potensi pertumbuhan. Hal ini juga seiring dengan tren kenaikan harga komoditas yang masih berlangsung.

Mengutip Bloomberg, pemerintah dikabarkan bakal memangkas pungutan ekspor minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai upaya untuk meningkatkan ekspor.

Saat ini pungutan CPO maksimum adalah sebesar US$225 per ton jika harga referensi ditetapkan melebihi US$1.000 per ton. Menurut sumber Bloomberg yang tidak ingin disebutkan namanya, pungutan itu akan dipangkas menjadi US$175 per ton untuk harga referensi di atas US$1.000 per ton.

Head of Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk. Michael Kesuma mengatakan bahwa bea ekspor yang terlalu tinggi akan cenderung membuat para eksportir menahan penjualan.

Bea yang terlalu tinggi pun dapat membatasi peluang perusahaan-perusahaan untuk mendulang pertumbuhan kinerja yang impresif walaupun harga CPO terus menanjak.

Sebagai gambaran, harga referensi produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk penetapan bea keluar (BK) periode Juni 2021 adalah US$1.223,90 per ton, naik 9,25 persen dibandingkan dengan periode Mei 2021.

Sesuai dengan itu, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar US$183 per ton untuk periode Juni 2021, juga naik dari BK periode Mei 2021 yang berada di angka US$144 per ton.

“Terlepas dari hal itu, perseroan akan terus mengoptimalkan produksi karena di harga yang sedang tinggi saat ini jangan sampai volume produksi tidak dimaksimalkan,” ujar Michael kepada Bisnis, Jumat (4/6/2021).

Emiten bersandi saham SGRO itu menargetkan pertumbuhan produksi mencapai sekitar 10-20 persen yoy pada 2021.

Investor Relation Manager PT Astra Agro Lestari Tbk. Fenny A. Sofyan mengatakan bahwa harga dan komponen beban sesungguhnya menjadi faktor yang mempengaruhi kinerja.

Namun, faktor produktivitas akan menjadi yang paling menentukan. Oleh karena itu, emiten berkode saham AALI itu fokus pada peningkatan produktivitas dan menjaga operasional di tengah Covid-19.

“Agar kinerja perusahaan tetap optimal di tahun ini kami mengoptimalkan digitalisasi yang sudah kami rintis dan melakukan inovasi baru. Selain itu replanting tetap kami lakukan dengan target 5.000-6.000 Ha per tahun dan bertahap menggunakan bibit unggul yang kami hasilkan,” ujar Fenny kepada Bisnis, Minggu (6/6/2021).

Sebelumnya, Direktur Astra Agro Lestari Mario CS Gultom mengaku optimistis prospek kinerja perseroan di sisa tahun ini masih baik dan mampu mencetak pertumbuhan setelah laba pada kuartal I/2021 menurun seiring dengan mulai berlakunya pungutan ekspor atau levy CPO secara progresif.

“Dengan adanya levy progresif itu jadi jika dihitung harga CIF Rotterdam dipotong 30-40 persen hanya untuk levy saja,” papar Mario belum lama ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper