Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Emas Bakal Terus Naik? Perhatikan 4 Sentimen Penggeraknya

Emas pada akhirnya adalah aset tempat berlindung yang menurut logika konvensional, harganya malah akan tertekan saat ekonomi berkembang pesat.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 30 Mei 2021  |  11:48 WIB
Emas batangan 24 karat ukuran 1oz atau 1 ons, setara 28,34 gram. Harga emas mengalami pergerakan ekstrim pada pekan ini yang mana sempat turun ke level US1.800 per ons beberapa hari setelah memecahkan rekor harga tertinggi. - Bloomberg
Emas batangan 24 karat ukuran 1oz atau 1 ons, setara 28,34 gram. Harga emas mengalami pergerakan ekstrim pada pekan ini yang mana sempat turun ke level US1.800 per ons beberapa hari setelah memecahkan rekor harga tertinggi. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Emas batangan menjadi salah satu komoditas paling bersinar sepanjang Mei dan banyak pihak yang menyebut harga logam mulia ini bakal terus kembali menanjak. Lantas, sentimen apa saja yang akan memengaruhinya?

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot menguat 0,38 persen pada Jumat (28/5/2021) lalu. Di saat yang sama, harga emas Comex untuk kontrak Agustus 2021 naik 0,36 persen.

Investor telah terpikat kembali oleh daya tarik emas sebagai aset lindung nilai inflasi, di saat Federal Reserve mempertahankan stimulus moneternya dan mengatakan tekanan harga hanya akan terjadi sementara.

Salah satunya adalah, Diego Parrilla dari Quadriga Igneo Fund. Parilla belakangan meningkatkan eksposur mereka terhadap emas, karena dia meyakini bahwa bank sentral AS tidak akan mengambil risiko menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi.

“Kami telah memasuki paradigma baru yang akan didominasi oleh tingkat bunga riil yang sangat negatif, inflasi tinggi, dan tingkat nominal rendah - lingkungan yang sangat mendukung untuk emas,” kata Parrilla, seperti dilansir dari Bloomberg, Minggu (30/5/2021).

Emas pada akhirnya adalah aset tempat berlindung yang menurut logika konvensional, harganya malah akan tertekan saat ekonomi berkembang pesat. Para analis merangkum empat sentimen utama yang dapat dicermati.

1. Teka-Teki Inflasi

Ini menjadi pertanyaan terpanas dalam keuangan tahun ini, dan mungkin yang terbesar untuk emas: akankah tekanan inflasi saat ini bersifat sementara atau terus-menerus?

Jika Anda bertanya kepada The Fed, jawabannya adalah yang pertama. Sebagian pasar obligasi tidak setuju, karena ekspektasi inflasi jangka panjang berbasis pasar naik ke level tertinggi sejak 2013 awal bulan ini.

Hal tersebut akan menjadi kesempatan untuk emas, yang diuntungkan ketika kebijakan moneter menjaga suku bunga obligasi tetap rendah bahkan saat inflasi terus berlanjut. Ini juga ditambah dengan real yield US Treasury yang kembali turun belakangan ini.

Langkah The Fed selanjutnya dianggap penting. aApalagi setiap petunjuk bahwa Fed akan melakukan tapering karena inflasi atau kekuatan pasar tenaga kerja dapat melihat lonjakan suku bunga obligasi dan memicu pengulangan taper tantrum.

Ini posisi yang akan menjadi sangat rapuh, terkait dengan narasi tapering ini,” kata Marcus Garvey, Head of Metals Strategy di Macquarie Group Ltd.

Di sisi lain, apa pun yang menyeret pemulihan ekonomi global - baik itu data pekerjaan yang buruk atau varian virus baru - akan melihat hasil nyata turun, menguntungkan logam.

2. Dolar Sebagai Penggerak

Dolar telah menjadi salah satu penopang harga emas paling berjasa tahun ini. Setelah menguat karena program vaksinasi A.S, dolar kembali melemah seiring kondisi yang terjadi di negara-negara lain sehingga memberikan spotlight untuk logam mulia.

Sebagian besar analis tidak melihat banyak pergerakan dalam dolar ke depan, dengan prediksi yang dikumpulkan oleh Bloomberg menunjukkan hanya sedikit penguatan.

Jika analisis tersebut tak terbukti, baik itu karena divergensi dalam pemulihan global atau sikap hawkish yang mengejutkan dari bank sentral negara lain, implikasinya terhadap emas batangan bisa jadi signifikan.

3. Permintaan Investor

Awal yang buruk dari emas tahun ini datang karena dana yang diperdagangkan di bursa melepas kepemilikan mereka atas logam tersebut sebesar 237 ton selama empat bulan hingga April.

Perdagangan aset lindung nilai ini di Bursa Comex juga mengurangi eksposurnya ke level terendah sejak 2019 pada awal Maret. Namun, pada kuartal kedua, arus mulai berbalik dan jika itu terus terjadi maka pijakan emas dapat lebih tinggi.

“Masih ada potensi permintaan investasi yang terpendam. Tapi tetap saja, posisinya relatif kecil,” kata Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank A/S.

Sementara itu, Robert Jan Van Der Mark dari Aegon NV, tetap meyakini bahwa porsi aset safe haven perlu dikurangi. Dia sendiri telah mengurangi porsi emas dalam portofolionya sejak November lalu, pasca vaksin diumumkan.

"Dengan program vaksinasi yang masih on track dan ekonomi yang dibuka kembali, kami tidak terlalu ingin memiliki jenis aset safe haven dalam portofolio,” katanya.

4. Lonjakan Bitcoin 

Sering disebut-sebut sebagai emas batangan digital, reli Bitcoin di bulan-bulan pertama tahun ini menarik perhatian para penyuka emas untuk beralih. Kedua aset tersebut disukai oleh mereka yang takut akan hiperinflasi dan penurunan nilai mata uang.

Akan tetapi, performa Bitcoin yang sangat volatil dan telah turun sekitar 40 persen dari level tertinggi pertengahan April, ditambah dengan arus keluar dana yang cukup besar, membuat emas bisa menjadi tujuan pelaku pasar yang menarik dana dari Bitcoin.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga emas dunia logam mulia
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top