Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mirae Prediksi IHSG Cenderung Downtrend Selama Mei 2021

Pergerakan harga komoditas, laporan keuangan kuartal I/2021 dan perkembangan Covid-19 juga menjadi faktor penggerak IHSG pada Mei 2021.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 06 Mei 2021  |  16:52 WIB
Karyawan melintas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/5/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/5/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Mirae Asset Sekuritas memperkirakan ekspektasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada bulan Mei 2021 bergerak secara konsolidasi dengan kecenderungan downtrend.

"Ekspektasi IHSG kami perkirakan kalau secara teknikal masih akan bergerak secara konsolidasi dengan kecenderungan untuk downtrend. Level support ada di level 5.883 dan resistence di level 6.115," kata Martha Chritina, Senior Information Mirae Asset Sekuritas dalam konferensi pers Kamis (6/5/2021).

Lebih lanjut Martha mengungkapkan volume transaksi bulan ini juga akan relatif menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya dikarenakan adanya libur lebaran Idulfitri.

Sementara itu masih seperti bulan sebelumnya, data ekonomi domestik maupun global akan menjadi faktor penggerak IHSG ungkap Martha.

Selain itu, pergerakan harga komoditas, laporan keuangan kuartal I/2021 dan perkembangan Covid-19 juga menjadi faktor penggerak IHSG pada Mei 2021.

Secara bulanan, Mirae mencatat IHSG pada April 2021 mengalami kenaikan tipis 0,2 persen ke level 5.995,6, setelah Maret 2021 melemah 4,1 persen.

Kenaikan harga komoditas sebagai faktor penggerak IHSG bulan ini berkaitan dengan kenaikan harga komoditas yang cukup fantastis pada April 2021.

Di mana tercatat harga tembaga dan timah dalam satu bulan melonjak sebesar 12 persen. Kemudian disusul kenaikan harga nikel 9 persen, minyak kelapa sawit (CPO) 8 persen, dan minyak mentah 7,5 persen dalam sebulan.

Kenaikan harga tersebut menurut Martha beriringan dengan optimisme pemulihan ekonomi yang akan dipimpin oleh Amerika Serikat dan China. Dia memperkirakan pemulihan ekonomi kedua negara tersebut akan lebih tinggi dari ekspektasi.

Selanjutnya tercatat baru 20 persen atau sekitar 130 perseroan dari 737 emiten yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang telah menerbitkan laporan keuangan kuartal I/2021 mereka.

Sehingga membuat investor akan menunggu dan melihat laporan keuangan emiten-emiten tersebut untuk membaca dampak dari perbaikan ekonomi dan juga kinerja perusahaan jelas Martha.

"Kita tahu bahwa kinerja perusahaan di kuartal satu itu menjadi guidance untuk investor melihat kierja selama tahun 2021 nantinya. Dengan minimnya laporan keuangan yang rilis, maka investor lebih cenderung wait and see," papar Martha. 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG sekuritas
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top