Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setelah Naik Hampir 5 Persen, Bagaimana Pergerakan Harga Minyak Selanjutnya?

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (15/4/2021), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat menguat hingga 0,05 persen ke level US$63,18 per barel sebelum terkoreksi 0,19 persen ke US$63,03 per barel.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 15 April 2021  |  15:21 WIB
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia - Bloomberg/Andrei Rudakov
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia - Bloomberg/Andrei Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia terpantau menurun tipis setelah melonjak hampir 5 persen seiring dengan rilis data dari AS mengindikasikan outlook permintaan yang semakin baik. Meski demikian, prospek penguatan komoditas ini masih cukup terbuka seiring dengan optimisme pelaku pasar dan potensi konflik geopolitik.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (15/4/2021), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat menguat hingga 0,05 persen ke level US$63,18 per barel sebelum terkoreksi 0,19 persen ke US$63,03 per barel.

Sementara itu, minyak jenis Brent kontrak Juni 2021 juga sempat naik hingga 0,14 persen ke US$66,67 per barel sebelum menurun 0,11 persen ke US$66,51 per barel. Sebelumnya, pada perdagangan Rabu kemarin, harga minyak jenis WTI melonjak 4,9 persen, sedangkan minyak Brent melesat 4,6 persen.

Harga minyak berjangka di New York stabil di kisaran US$63 per barel setelah sebelumnya ditutup menguat selama tiga hari beruntun. Catatan tersebut merupakan reli positif terpanjang selama lebih dari sebulan.

Adapun, harga komoditas ini sempat terjebak di level US$60 per barel setelah tersendatnya penguatan ditengah lonjakan kasus positif virus corona. Salah satu sentimen positif untuk harga minyak adalah menurunnya jumlah cadangan minyak di AS.

Data dari American Petroleum Institute (API) menyebutkan, jumlah cadangan minyak Negeri Paman Sam menurun 3,61 juta barel pada pekan lalu. Sementara itu, cadangan bahan bakar minyak terpantau naik 5,57 juta barel.

Laporan dari Energy Information Administration (EIA) menyebutkan, jumlah cadangan minyak AS turun 5,89 juta barel pada minggu lalu. Jumlah cadangan bahan bakar minyak kembali bertambah selama dua pekan beruntun, sementara pasokan distilat seperti bahan bakar diesel berkurang untuk pertama kalinya sejak awal Maret lalu.

Rilis data tersebut mengikuti sentimen bullish yang dikeluarkan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (The Organization of the Petroleum Exporting Countries) dan sekutunya atau OPEC+ serta International Energy Agency (IEA). Dalam risetnya, OPEC meningkatkan proyeksi permintaan minyaknya pada tahun ini sebesar 190 ribu barel per hari menjadi 96,46 juta barel per hari.

Jumlah tersebut mengindikasikan pertumbuhan permintaan sebesar 6 juta barel per hari dibandingkan tahun 2020. Meski demikian, OPEC menurunkan outlooknya untuk kuartal II/2021 sebesar 520 ribu barel per hari.

Dalam laporan tersebut, OPEC memperkirakan pasar minyak dunia akan terus pulih seiring dengan peningkatan permintaan. Hal tersebut memungkinkan OPEC untuk melanjutkan rencana penambahan output hariannya.

“Berkurangnya surplus cadangan serta proyeksi pertumbuhan permintaan akan menjadi dasar pemulihan pasar minyak yang seimbang pada musim panas ini,” jelas OPEC dikutip dari laporannya.

Penambahan produksi kemungkinan juga akan datang dari Iran, yang tengah membahas rencana untuk kembali pada perjanjian nuklir yang diratifikasi pada 2015 lalu. Pemerintah Iran akan meminta AS untuk mengangkat sanksi ekspor minyaknya.

Pasar minyak akan segera menghadapi penambahan pasokan minyak dalam waktu dekat. Pada awal April lalu, OPEC bersama Rusia dan produsen sekutu lainnya sepakat untuk mengurangi pembatasan produksi sebesar 350.000 barel per hari (bph) pada Mei, 350.000 barel per hari lagi pada Juni, dan lebih lanjut 400.000 barel per hari atau lebih pada Juli.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, pemangkasan yang diterapkan oleh OPEC+ akan sedikit di atas 6,5 juta barel per hari mulai Mei, dibandingkan dengan sedikit di bawah 7 juta barel per hari pada April.

Founder Vanda Insights Vandana Hari mengatakan, meski tengah menguat, peluang terjadinya koreksi harga minyak dalam jangka pendek masih terbuka. Hal ini disebabkan oleh kondisi lockdown yang terjadi pada sejumlah negara di Eropa serta gelombang virus corona kedua di India.

“Konsolidasi harga masih sangat mungkin terjadi karena lonjakan harga yang signifikan kemarin,” jelasnya.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebutkan, koreksi harga yang terjadi saat ini terbilang wajar. Menurutnya, penguatan harga yang terjadi kemarin cukup signifikan dan berada diluar ekspektasi.

Ibrahim menjelaskan, masalah pandemi virus corona masih menjadi sentimen negatif utama yang akan mempengaruhi pergerakan harga minyak. Dengan lockdown yang terjadi pada salah satu kota di India, Mumbai, maka tingkat konsumsi dan permintaan minyak akan mengalami penurunan.

“Permintaan minyak dalam beberapa waktu masih akan terganggu dengan lockdown di India, karena India merupakan importir minyak terbesar kedua di dunia setelah China,” jelasnya saat dihubungi pada Kamis (15/4/2021).

Meski demikian, Ibrahim menilai prospek penguatan harga minyak masih terbuka. Hal ini salah satunya ditopang oleh optimisme dari sejumlah organisasi terkait penambahan produksi dan pertumbuhan konsumsi minyak dunia.

Di sisi lain, tingkat permintaan minyak dunia juga mulai menunjukkan pemulihan. Hal tersebut, katanya, terlihat dari kenaikan permintaan bahan bakar minyak di AS.

Ibrahim melanjutkan, tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina juga dapat berimbas positif bagi pergerakan harga minyak. Ia menjelaskan, pertikaian antara kedua negara terkait wilayah Krimea yang merupakan salah satu daerah produsen komoditas, termasuk minyak, dapat mengangkat harga minyak dunia.

“Apalagi, konflik ini juga melibatkan AS yang memiliki armada di wilayah Laut Hitam,” kata Ibrahim.

Dia memprediksi , hingga akhir pekan ini harga minyak akan bergerak melandai pada kisaran US$61 hingga US$63 per barel. Sementara itu, harga minyak dunia akan berada pada level US$58 hingga US$66 per barel hingga akhir paruh pertama tahun ini.

Senada, Executive Vice President Confluence Investment Management, Bill O’Grady mengatakan, harga minyak masih berpotensi menguat setelah melewati level upside-nya.

“Faktor bearish pada semua pasar akan tetap ada, termasuk minyak. Dengan penguatan kemarin, harga minyak kemungkinan akan kembali menguji level tertinggi yang pernah dicatatkan, atau bahkan melampauinya,” jelas O’Grady.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec harga minyak mentah wti

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top