Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Reksa Dana Masih Prospektif, Ini Saran Pinnacle Investama untuk Investor

Investasi di reksa dana saham dan reksa dana pendapatan dinilai menjadi pilihan untuk periode jangka panjang karena kondisi pasar yang tengah koreksi dapat dimanfaatkan investor.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 06 April 2021  |  05:23 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Reksa dana dengan kelas aset saham dan obligasi dinilai masih prospektif pada kuartal II/2021 ini. Adapun, investor reksa dana disarankan untuk memiliki horizon investasi lebih panjang.

Direktur Utama PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra meyakini, meski volatilitas di pasar saham dan obligasi terbilang tinggi sepanjang kuartal I lalu, kinerja reksa dana di kuartal II masih prospektif.

Menurutnya, secara kinerja khususnya di pasar saham tak bisa disebut dalam keadaan tertekan. Alih-alih dia menilai pertumbuhan IHSG masih cenderung “flattish” karena pergerakannya per akhir Maret tak berbeda jauh dengan posisi penutupan 2020 lalu.

Sementara itu, untuk pasar obligasi, Guntur mnenyebut volatilitas datang dari sentimen eksternal yang mana pasar obligasi di Indonesia terseret tren global seiring pergerakan yield US Treasury yang fluktuatif dan cenderung bergerak naik dalam periode Q1/2021.

Guntur mengatakan pada umumnya investasi di reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap merupakan pilihan untuk periode jangka panjang dan bukan spekulasi jangka pendek sehingga kondisi pasar yang tengah koreksi dapat dimanfaatkan investor.

“Dari sisi potensi sebenarnya ini momen yang lebih tepat untuk investor masuk dengan dollar cost averaging. Investor ada kesempatan untuk masuk di entry point yang lebih baik jika dibandingkan pada saat indeks di level 6.300—6.400,” katanya, Senin (5/4/2021)

Lebih lanjut, Guntur menekankan investor perlu mengetahui tujuan dan toleransi risiko sebelum berinvestasi, karena karakterisitik setiap produk reksa dana pun juga berbeda.

“Investasi harus dibedakan dengan spekulasi, investor harus berpikir long term, karena pergerakan dinamika pasar secara jangka pendek hanya “noise”, dari sisi produk untuk aset kelas obligasi,” tambah dia.

Sebagai pilihan, imbuh Guntur, pihaknya memiliki Pinnacle Indonesia Bond Fund, yang berinvestasi di obligasi negara dengan menerapkan strategi aktif tactical duration, sedangkan untuk kelas aset saham/campuran, untuk strategi aktif ada reksa dana Pinnacle Strategic Equity Fund dan Pinnacle Granditas Balanced Fund yang menerapkan strategi kuantitatif secara aktif.

Sementara bagi investor yang lebih menyukai investasi pasif, Pinnacle memiliki index fund dan ETF yang berbasis FTSE Indonesia Index (Pinnacle FTSE Indonesia Index ETF). Kemudian untuk likuditas dapat memilih reksa dana pasar uang Pinnacle Money Market Fund.

Adapun dari sisi manajer investasi, untuk memaksimalkan potensi imbal hasil produk, Guntur menyatakan pihaknya melakukan pengoptimalan dari sisi alokasi aset (asset allocation), karena pergerakan pasar baik di obligasi dan saham cenderung dinamis.

“Sehingga tim kami menerapkan strategi kuantitatif yang sistematis untuk dapat beradaptasi dengan pergerakan pasar,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi pasar obligasi reksa dana pasar saham
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top