Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Tergelincir di Akhir Pekan, Bagaimana Proyeksi Awal Maret?

Dalam periode tahun berjalan, nilai tukar rupiah telah melemah 1,32 persen terhadap dollar AS. Sepanjang Februari 2021 rupiah telah melemah 0,96 persen.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 26 Februari 2021  |  16:17 WIB
Karyawan menunjukan Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Februari, Jumat (26/2/2021). Pelemahan rupiah diperkirakan berlanjut pada awal Maret 2021 atau pekan depan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah cukup dalam 1,08 persen atau 152,5 poin ke level Rp14.235 per dollar AS. Padahal, saat penutupan kemarin, rupiah berada di level Rp14.082, sepanjang hari rupiah bergerak di rentang Rp14.105--Rp14.255 per dolar AS.

Dalam periode tahun berjalan, nilai tukar rupiah telah melemah 1,32 persen terhadap dollar AS. Sepanjang Februari 2021 rupiah telah melemah 0,96 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menuturkan sinyal negatif dari data eksternal cukup menguatkan indeks dollar sehingga berakibat terhadap melemahnya mata uang rupiah.

Pada pukul 15.22 WIB, indeks dollar AS menguat 0,29 persen ke level 90,382. Penguatan ini dsebut oleh Ibrahim akibat dari bergesernya pasar yang lebih fokus ke obligasi pemerintah AS.

"Obligasi pemerintah dan khususnya Treasury AS, telah menjadi titik fokus pasar secara global, setelah para pedagang secara agresif mengubah harga dalam pengetatan moneter sebelumnya daripada yang diisyaratkan oleh Federal Reserve dan rekan-rekannya," jelasnya, Jumat (26/2/2021).

Dia menjelaskan imbal hasil obligasi telah naik tahun ini karena prospek stimulus fiskal besar-besaran di tengah kebijakan moneter yang sangat lunak, yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Selain itu, percepatan laju vaksinasi secara global juga telah mendukung apa yang kemudian dikenal sebagai perdagangan reflasi, mengacu pada taruhan pada peningkatan aktivitas ekonomi dan harga.

Namun dalam beberapa hari terakhir, kenaikan imbal hasil obligasi yang disesuaikan dengan inflasi telah dipercepat, menunjukkan keyakinan yang berkembang bahwa bank sentral mungkin perlu mengurangi kebijakan ultra-longgar.

"Sedangkan untuk perdagangan pekan depan, tepatnya Senin [1/3/2021], mata uang rupiah kemungkinan dibuka dan ditutup melemah di rentang Rp14.230--Rp14.290 per dollar AS," katanya.  


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top