Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendapatan Turun, Laba Vale (INCO) Tetap Tumbuh 44 Persen pada 2020

Pendapatan INCO turun 1,82 persen menjadi US$764,74 juta pada 2020, namun perseroan berhasil mencetak pertumbuhan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 44,2 persen menjadi US$82,81 juta.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Februari 2021  |  08:43 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan mineral, PT Vale Indonesia Tbk., berhasil mencetak pertumbuhan laba sepanjang 2020, kendati pos pendapatan mengalami koreksi.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, emiten berkode saham INCO itu mencetak pendapatan sebesar US$764,74 juta pada 2020. Realisasi itu turun 1,82 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar US$782,01 juta.

Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter mengatakan bahwa penurunan pendapatan perseroan tahun lalu disebabkan harga realisasi rata-rata yang lebih rendah.

INCO mencatat harga realisasi rata-rata pengiriman nikel matte pada 2020 sebesar US$10.498 per ton, lebih rendah daripada level 2019 sebesar US$10.855 per ton.

Namun, INCO berhasil menekan beban pokok pendapatan 2020 menjadi sebesar US$640,4 juta atau turun 4 persen dibandingkan dengan beban pokok pendapatan 2019 sebesar US$664,3 juta.

Dengan demikian, perseroan berhasil mencetak pertumbuhan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 44,2 persen menjadi US$82,81 juta dibandingkan dengan perolehan 2019 US$57,4 juta.

“Selain itu, grup mencatat EBITDA sebesar US$273,0 juta terutama didorong oleh produksi dan pengiriman nikel yang lebih tinggi dan kemampuan untuk mengelola biaya dengan hati-hati,” ujar Nico dikutip dari keterangan resminya, Kamis (26/2/2021).

Lebih perinci, INCO berhasil menekan beban yang tercermin dari realisasi konsumsi High Sulphur Fuel Oil (HSFO), diesel, dan batu bara. Pada 2020, konsumsi HSFO dan diesel perseroan mengalami penurunan masing-masing sebesar 8 persen dan 12 persen.

Sementara itu, konsumsi batubara naik sebesar 15 persen bila dibandingkan dengan tahun 2019 yang diimbangi dengan penurunan konsumsi HSFO dan diesel. Harga HSFO, diesel dan batubara mengalami penurunan masing-masing sebesar 36 persen, 31 persen, dan 17 persen.

Dari sisi produksi, INCO memproduksi 72.237 ton nikel dalam matte sepanjang 2020, 2 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi 2019 sebesar 71.025 ton nikel.

Di sisi lain, total liabilitas INCO membengkak menjadi US$294,27 juta per 31 Desember 2020, dibandingkan dengan posisi akhir 2019 sebesar US$280,995 juta.

Kendati demikian, total aset naik menjadi US$2,31 miliar pada akhir 2020, lebih tinggi dari posisi akhir 2019 sebesar US$2,22 miliar. Kas dan setara kas Grup pada 31 Desember 2020 sebesar US$388,7 juta, naik US$139,6 juta dari saldo pada 31 Desember 2019.

Nico menjelaskan bahwa perseroan akan terus melakukan kontrol yang hati-hati atas pengeluaran untuk menjaga ketersediaan kas.

“Perseroan akan tetap fokus pada berbagai inisiatif produktivitas dan penghematan biaya untuk mempertahankan daya saing Perseroan dalam jangka panjang tanpa mengkompromikan nilai utama Perseroan, yaitu keselamatan jiwa merupakan hal terpenting dan menjaga kelestarian bumi,” papar Nico.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten vale indonesia tbk inco
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top