Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permintaan China Tinggi, Harga Kedelai Kian Melejit

Salah satu sentimen pendukung reli harga biji kedelai adalah tingkat permintaan global yang tinggi, utamanya dari China. Tingginya permintaan dari China juga sempat melambungkan harga kedelai ke level tertingginya dalam enam tahun pada awal 2021 lalu.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  18:59 WIB
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi fundamental yang baik dinilai menjadi faktor penguatan harga biji kedelai hingga ke kisaran US$14 per bushel.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (24/2/2020), harga biji kedelai berjangka untuk kontrak Mei 2021 terpantau naik hingga 2,9 persen ke US$14,2825 per bushel. Secara year to date (ytd) harga biji kedelai telah naik 7,18 persen.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan, tren positif harga biji kedelai memang sejalan dengan kenaikan harga komoditas lainnya seperti tembaga, minyak kelapa sawit, dan lain-lain. Selain itu, ia menilai beberapa sentimen yang mempengaruhi pasar kedelai memang sedang bagus.

“Fundamentalnya memang bagus saat ini, sehingga kenaikan harga biji kedelai memang wajar,” katanya saat dihubungi pada Rabu (24/2/2021).

Wahyu memaparkan, salah satu sentimen pendukung reli harga biji kedelai adalah tingkat permintaan global yang tinggi, utamanya dari China. Tingginya permintaan dari China juga sempat melambungkan harga kedelai ke level tertingginya dalam enam tahun pada awal 2021 lalu.

Kenaikan permintaan biji kedelai dari China disebabkan oleh upaya pemerintah setempat untuk memulihkan industri peternakan yang terdampak flu babi Afrika beberapa waktu lalu. Para peternak di China menggunakan biji kedelai sebagai salah satu pakan ternak.

Selain dari China, faktor cuaca ekstrim yang dialami oleh negara produsen seperti Argentina dan Brazil juga turut mempengaruhi reli harga biji kedelai. Ia menjelaskan, cuaca yang tidak kondusif berimbas pada tertundanya proses penanaman kedelai.

Penundaan tersebut, lanjut Wahyu, akan semakin menekan pasokan dan permintaan global yang sudah sangat sempit sebelumnya. Padahal, perekonomian China saat ini telah menunjukkan pemulihan dan tingkat permintaan terhadap biji kedelai juga berpotensi kembali meningkat

“Ini membuat persediaan biji kedelai global semakin menipis. Di sisi lain, cuaca kering juga menghambat proses penanaman kedelai,” jelasnya.

Wahyu menilai peluang kenaikan harga komoditas ini masih terbuka. Menurutnya, dengan tren positif saat ini, potensi harga kedelai menguji level US$15 per bushel semakin terbuka.

“Bila menembus US$15, harag biji kedelai juga berpeluang menguji kisaran US$17 per bushel,” katanya.

Meski demikian, menurutnya harga kedelai akan sulit bertahan lama di level US$15 per bushel. Sehingga, kisaran harga untuk biji kedelai di 2021 menurut Wahyu adalah pada rentang US$12 per bushel hingga US$15 per bushel.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas kedelai harga kedelai
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top