Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indeks Saham Acuan Berubah, Ini Rencana Pinnacle Investama

Manajer investasi menggunakan indeks acuan yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai dasar penentuan investasi mereka. Perubahan konstituen indeks acuan akan menyebabkan perusahaan melakukan pelepasan aset dan berbelanja emiten lainnya.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 31 Januari 2021  |  13:20 WIB
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (12/11/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (12/11/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan Bursa Efek Indonesia mengubah konstituen sejumlah indeks saham acuan mulai 1 Februari 2021, membuat para manajer investasi melakukan langkah serupa. 

Para manajer investasi bersiap melakukan penyesuaian portofolio reksa dana indeks mereka atau rebalancing

Seperti diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja resmi mengubah jajaran penghuni sejumlah indeks yang berlaku mulai 1 Februari hingga Agustus 2021, salah satu yang mengalami perubahan adalah IDX30. Indeks ini adalah saham paling likuid dari saham-saham blue chip atau lebih dikenal dengan kenal indeks LQ45.

Tercatat, dari 30 anggota konstituen IDX30, ada empat emiten keluar yaitu ACES, ERAA, INCO, dan JPFA. Keempatnya kemudian digantikan oleh MDKA, PWON, TBIG, dan TKIM.

Direktur Utama PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan dengan adanya evaluasi di indeks tersebut manajer investasi perlu menyesuaikan bobot atas saham-saham yang mengalami perubahan baik keluar atau masuk indeks IDX30

 “Tentunya karena produk IDX30 ETF ini menerapkan strategi pasif full index replication,” kata Guntur kepada Bisnis, Jumat (29/1/2021).

Dia menyebut tidak ada strategi khusus untuk rebalancing portofolio tersebut. Pasalnya, Pinnacle merupakan manajer investasi berbasis teknologi yang memiliki keahlian di pengelolaan strategi pasif sehingga proses rebalancing akan dijalankan secara otomatis.

Rebalancing untuk produk terkait sudah automated dan akan dijalankan secara sistematis untuk memastikan proses rebalancing kami memiliki dampak yang sangat minimal terhadap kinerja dan tracking error,” jelasnya.

Di sisi lain, Guntur menilai perubahan konstituen tidak akan berdampak banyak ke  indeks IDX30, karena dari sisi pembobotan masih bisa terbilang kecil dibandingkan dengan emiten-emiten lain yang memiliki market kapitalisasi dan bobot yang lebih besar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG rekomendasi saham
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top