Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa Saham Sedang Jeblok, Bagaimana Proyeksi ke Depan?

Pasar saham pada tahun ini disebut masih menjadi instrumen investasi menarik, didukung oleh pemberian stimulus fiskal maupun moneter yang diharapkan dapat memperbaiki kembali kinerja perusahaan.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 29 Januari 2021  |  20:13 WIB
Chief Investment Officer Eastspring Investments Indonesia Ari Pitojo (kiri) berbincang dengan Chief of Product Development & Head of Sharia Unit Rian Wisnu Murti, usai halalbihalal, di Jakarta, Rabu (26/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Chief Investment Officer Eastspring Investments Indonesia Ari Pitojo (kiri) berbincang dengan Chief of Product Development & Head of Sharia Unit Rian Wisnu Murti, usai halalbihalal, di Jakarta, Rabu (26/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati tengah dalam tren penurunan lebih dari sepekan belakangan, pasar saham dinilai masih prospektif dan menarik sepanjang tahun ini. 

Pada perdagangan Jumat (29/1/2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengakhiri lajunya di zona merah dengan koreksi 1,96 persen ke level 5872,35. Secara kumulatif, sejak Kamis  (21/01/2021) IHSG sudah anjlok 8,60 persen.  

CIO Eastspring Investment Indonesia Ari Pitojo mengatakan volatilitas pasar global terutama AS beberapa hari ini turut memicu penurunan di IHSG maupun bursa regional. Ini terlihat dari kinerja bursa-bursa Asia lain yang amblas, seperti indeks NIKKEI -1,89 persen, Hang Seng -0,70 persen, dan KOSPI -3,03 persen.

“Hal tersebut didorong oleh perilaku spekulatif investor ritel di AS yang sengaja membeli saham-saham short seperti GameStop, sehingga menyebabkan kerugian besar pada para investor institusional atau para hedge funds,” kata Ari dalam publikasi yang dikutip Bisnis, Jumat (29/1/2021) 

Dari dalam negeri, kekhawatiran akan peningkatan kasus positif Covid-19 harian di Indonesia di tengah kapasitas rumah sakit yang semakin penuh turut menjadi sentimen negatif. Untuk diketahui, kasus positif COvid-19 telah menembus satu juta dan BOR (Bed Occupancy Rate) ICU dan isolasi berada pada level 84-86 persen.

Ari mengatakan, pasar saham pada tahun ini masih menjadi instrumen investasi yang menarik, didukung oleh pemberian stimulus fiskal maupun moneter yang diharapkan dapat memperbaiki kembali kinerja perusahaan.

Hal tersebut juga didukung oleh keadaan ekonomi Indonesia yang masih konsisten menunjukkan pemulihan dengan level PMI Manufaktur yang telah kembali di atas ambang 50 serta cadangan devisa yang setara dengan 9 bulan impor. 

Ini ditambah level inflasi dan rupiah yang cenderung stabil secara year to date 2021 pada level 13.900 – 14.100. Selain itu IMF memproyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dapat tumbuh 4,8 persen tahun ini.

“Namun kami melihat risiko volatilitas tetap ada terutama dari perkembangan situasi Covid-19 dan, persetujuan stimulus di negara-negara maju terutama AS,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG bursa efek indonesia rekomendasi saham
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top