Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Takut Perusahaan Bangkrut! Serikat Pekerja Garuda Indonesia (GIAA) Minta OWK Segera Cair

Garuda Indonesia direncanakan mendapatkan dana PEN sebesar Rp8,5 triliun melalui skema obligasi wajib konversi (OWK) dari pemerintah RI sebagai pemegang saham terbesar.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  12:04 WIB
rnrnDokumentasi. Pekerja melakukan pengecekan akhir livery masker pesawat yang terpilih sebagai pemenang, sebelum peluncuran pesawat Garuda Indonesia Boing 737-800 NG bercorak khusus yang menampilkan visual masker bertema "Indonesia Pride" pada bagian moncong pesawat di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.  - ANTARA
rnrnDokumentasi. Pekerja melakukan pengecekan akhir livery masker pesawat yang terpilih sebagai pemenang, sebelum peluncuran pesawat Garuda Indonesia Boing 737-800 NG bercorak khusus yang menampilkan visual masker bertema "Indonesia Pride" pada bagian moncong pesawat di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. atau Sekarga melayangkan surat kepada pemerintah dan Kementerian BUMN meminta segera dikucurkannya dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) bagi perseroannya. Jika tidak, perseroan disebutnya akan bangkrut.

Ketua Umum Sekarga Dwi Yulianta melalui surat bertanggal Selasa, 26 Januari 2021 mengungkapkan keresahannya tersebut. Maskapai BUMN ini disebut akan bangkrut jika dana PEN tidak segera disuntikkan kepada perseroan.

"Demi menjaga kelangsungan Perusahaan Maskapai Kebanggaan Nasional Milik Bangsa, maka kami dan Serikat Karyawan Garuda Indonesia memohon kepada Bapak Presiden, Bapak Menteri BUMN/Pemegang Saham Mayoritas PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Ibu Menteri Keuangan kiranya dapat merealisasikan pencairan Dana Pemulihan Ekonomi Nasional/PEN untuk Garuda karena sampai saat ini dana PEN tersebut belum bisa dicairkan," ungkapnya dalam surat tersebut, dikutip Bisnis.com, Kamis (28/1/2021).

Maskapai dengan sandi efek GIAA di bursa tersebut sejak awal tahun direncanakan mendapatkan dana PEN sebesar Rp8,5 triliun melalui skema obligasi wajib konversi (OWK) dari pemerintah RI sebagai pemegang saham terbesar.

Dana ini untuk menutupi kerugian dan kebutuhan operasionalnya di tengah kinerja perusahaan yang porak poranda akibat pandemi Covid-19.

"Sementara Garuda Indonesia sangat membutuhkan dana PEN untuk modal Kegiatan Operasional agar terhindar dari Kebangkrutan," kata Dwi.

Pandemi Covid-19 jelasnya telah berdampak sangat besar dan memukul industri penerbangan karena menurunnya jumlah penumpang yang sangat drastis. Kondisi ini sebagai akibat dari pembatasan sosial dan perjalanan udara baik domestik maupun internasional.

Hal tersebut berdampak secara signifikan pada menurunnya kinerja keuangan Garuda Indonesia dan juga seluruh maskapai yang ada di dunia bahkan beberapa maskapai luar negeri sudah mengalami kebangkrutan.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan masih menghadapi penurunan pendapatan yang cukup dalam pada 2020 jika dibandingkan dengan 2019.

Dia bercerita perkembangan jumlah penumpang mulai bertumbuh 38 persen dari Oktober ke November 2020 dan sudah mengangkut di atas 1 juta penumpang. Desember pun terjadi peningkatan berkaitan dengan libur Natal dan Tahun Baru.

"Kami lagi finalisasi angkanya. Pada 2020 tahun yang sangat berat buat Garuda dari segi finansial nanti kami laporkan. Kami akan mengalami penurunan [pendapatan] yang dalam," ujarnya, Selasa (19/1/2021).

Menurutnya yang terpenting sepanjang 2020 di kala pandemi Covid-19 emiten berkode GIAA tersebut mengalami perbaikan pendapatan yang signifikan. Kendati, hasil akhirnya masih di bawah harapan.

Dalam laporan keuangan per September 2020, manajemen Garuda Indonesia menyampaikan pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja perseroan hingga akhirnya membukukan kerugian hingga US$1,13 miliar atau setara Rp16,03 triliun.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (28/1/2021) sesi I, saham GIAA ditutup melemah 5 persen ke level 304. Secara year to date (ytd) penurunan harga sahamnya sudah mencapai 24,75 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia maskapai penerbangan obligasi wajib konversi Pemulihan Ekonomi Nasional
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top