Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Meski Dolar AS Perkasa, Rupiah Diprediksi Bertahan di Level Rp14.000

Nilai tukar rupiah dibayangi kenaikan tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun yang mendorong penguatan dolar AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 22 Januari 2021  |  18:51 WIB
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah diprediksi bertahan di kisaran level Rp14.000 per dolar AS pada pekan depan di tengah ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang diyakini memberikan kekuatan bagi dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (22/1/2021) rupiah berada di level Rp14.035 per dolar AS, terkoreksi 0,25 persen. Dalam perdagangan sepekan rupiah, terkoreksi 0,1 persen di saat mayoritas mata uang Asia berhasil terapresiasi.

Kendati demikian, sepanjang tahun berjalan 2021 rupiah masih menguat 0,1 persen terhadap dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah sepanjang pekan ini.

Nilai tukar rupiah dibayangi kenaikan tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun yang mendorong penguatan dolar AS.

“Kenaikan yield ini karena ekspektasi pemulihan ekonomi AS dan kenaikan tingkat inflasi AS di masa yang akan datang. Belum lagi, dana stimulus besar yang akan dikucurkan selama masa pemerintahan Joe Biden juga menguatkan ekspektasi tersebut” ujar Ariston kepada Bisnis, Jumat (22/1/2021).

Adapun, pada perdagangan akhir pekan ini indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama menguat 0,07 persen ke posisi 90,192.

Di sisi lain, perpanjangan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah wilayah Jawa-Bali hingga 8 Februari 2020 juga telah menekan laju rupiah untuk menetap di zona hijau.

Pada pekan depan, Ariston menilai rupiah berpotensi melanjutkan pelemahannya seiring dengan sentimen yield obligasi AS dan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan kasus positif Covid-19 di Indonesia masih menjadi fokus utama pelaku pasar.

Selain itu, rupiah juga berpotensi melemah jika pada pertemuan The Fed pekan depan, Ketua Jerome Powell memberikan pernyataan yang dapat menguatkan dolar AS.

Dia memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp13.950 hingga Rp14.150 per dolar AS.

Secara terpisah, Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa koreksi terhadap nilai tukar rupiah saat ini masih wajar setelah mengalami penguatan yang cukup baik dalam beberapa perdagangan terakhir.

Dia menilai fluktuasi rupiah masih akan terjadi hingga pekan depan, seiring dengan pasar yang menanti komentar Ketua The Fed Jerome Powell terkait arah kebijakan moneternya tahun ini pada pertemuan pertama 2021.

Rencana penggelontoran stimulus fiskal yang besar oleh Presiden AS Joe Biden dan komentar Menteri Keuangan AS terbaru Janet Yellen terkait keinginannya untuk membiarkan dolar AS bergerak sesuai pasar sesungguhnya telah menjadi katalis positif bagi rupiah.

“Dengan demikian, jika komentar The Fed terkait kebijakannya baik akan dukung rupiah,” ujar Wahyu kepada Bisnis.

Namun terlepas dari hal itu, sesungguhnya pasar global tengah konsolidasi karena ada kekhawatiran pasar terkait inflasi sehingga rupiah mungkin menetap di kisaran Rp14.000 per dolar AS.

Pada perdagangan Senin (25/1/2021), rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp14.000- Rp14.100 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Rupiah Joe Biden
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top