Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Rilis Global Bond Rp58 Triliun, Bagaimana Prospeknya?

Penerbitan obligasi global dalam mata uang dolar AS dan euro akan memberikan keuntungan ganda bagi Indonesia, yakni aliran dana segar dalam bentuk mata uang asing sehingga memberikan dampak positif kepada rupiah serta stabilitas di pasar SBN.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  08:47 WIB
Seorang pria menghitung lembaran uang euro dan dolar AS. - Bloomberg/Kerem Uzel
Seorang pria menghitung lembaran uang euro dan dolar AS. - Bloomberg/Kerem Uzel

Bisnis.com, JAKARTA — Pilihan pemerintah Indonesia untuk menerbitkan obligasi global disebut sebagai langkah yang positif. Pun, penyerapan atas global bond tersebut diproyeksi masih akan tinggi seiring kuponnya yang menarik.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan lahkah pemerintah terbilang tepat, apalagi saat ini fundamental ekonomi Indonesia dinilai baik, tercermin dari rating Indonesia oleh berbagai lembaga.

Tercatat, creding rating untuk surat utang Indonesia dalam mata uang asing dari Japan Creditr Rating Agendy (JCR) adalah A-, kemudian dari S&P adalah BBB, begitu pula dari Fitch Rating BBB.

“Jadi saya pikir masih sangat prospektif, secara fundamental masih sangat baik,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (6/1/2021)

Selain itu, Fikri menyebut penerbitan obligasi global dalam mata uang dolar AS dan euro akan memberikan keuntungan ganda bagi Indonesia, yakni aliran dana segar dalam bentuk mata uang asing yang akan memberikan dampak positif kepada rupiah serta stabilitas di pasar SBN.

“Jadi bisa dua efek sekaligus dari penerbitan ini,” imbuhnya.

Fikri juga menyebut penyerapan penerbitan obligasi dengan total nilai sekitar Rp58,82 triliun jika dirupiahkan ini sangat prospektif, apalagi kupon yang ditawarkan juga lebih tinggi dibandingkan benchmark US Treasury.

Sebagai informasi, seri yang diterbitkan masing-masing RI0331 (1,85 persen), RI0351 (3,05 persen), dan RI0371 (3,350 persen) , serta 1 SUN berdenominasi euro yaitu RIEUR0333 (1,10 persen).

“Masih sangat mungkin diserap asing, tahun lalu untuk global bond 2020 saja kita oversubscribed padahal dulu ekonomi sedang slowdown, tahun ini dengan recovery ekonomi harusnya bisa lebih bagus lagi,” tuturnya.

Dari sisi Indonesi sebagai penerbit, Fikri menilai cost of fund yang ditanggung tak setinggi penerbitan global bond sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada 2020 lalu global bond Indonesia dengan tenor 10,5 tahun menawarkan kupon 3,85 persen.

“Intinya kondisi saat ini masih disokong stabilitas rupiah dan stabilitas ekonomi Indonesia, apalagi CDS kita sudah turun jauh, artinya risiko Indonesia dipandang cukup positif,” katanya lagi.

Berdasarkan data worldgobernmentbonds,com, vredit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia per 6 Januari 2020 ada di level 68,89. Posisi ini jauh lebih rendah dibanding posisi CDS tertinggi pada 23 Maret 2020 yang sempat menyentuh level 290,8.

Di sisi lain, Fikri melihat tetap ada risiko yang akan timbuh terhadap perekonomian Indonesia, terutama saat jatuh tempo obligasi dan pembayaran kupon rutin. Menurutnya, ini berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah dan pembiayaan APBN.

“Jadi di saat yang sama selain kita mendapat natural hedging karena menerbitkan dalam bentuk global bond, kita juga ada ketergantungan pada US dan perekonomian AS juga. Karena USD kan,” jelasnya.

Seperti diketahui, Berdasarkan informasi di laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemerintah Indonesia melakukan transaksi penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam dua mata uang asing (dual-currency) yaitu US Dollar dan Euro dengan format SEC-Registered Shelf Take-Down.

Adapun, surat utang tersebut terdiri atas 3 seri SUN berdenominasi dolar AS yakni RI0331, RI0351, dan RI0371, serta 1 SUN berdenominasi euro yaitu RIEUR0333.

Seri RI033 memiliki tenor 10 tahun dengan akan jatuh tempo pada 12 Maret 2031. Nominal yang diterbitkan untuk seri ini adalah USD1,25 miliar, dengan kupon 1,85 persen (yield 1,90 persen).

Kemudian seri RI0351 memiliki tenor 30 tahun dan jatuh tempoi 12 Maret 2051. Seri ini memiliki nominal penerbitan yang sama dengan seri RI033 yakni US$1,25 miliar. Adapun kuponnya sebesar 3,05 persen (yield 3,10 persen).

Seri obligasi dolar AS ketiga, RI0371 memiliki tenor paling paling yakni 50 tahun dan akan jatuh tempo pada 12 Maret 2017. Seri RI0371 memiliki nilai penerbitan paling sedikit yakni US$0,5 miliar dengan kupon paling tinggi 3,35 persen (yield 3,40 persen).

Selanjutnya untuk seri berdenominasi euro, RIEUR0333 memiliki tenor 12 tahun dan akan jatuh tempo pada 12 Maret 2033. Nominal penerbitan seri ini sebesar €1 miliar dengan kupon 1,10 persen (yield 1,17 persen).

Pricing date untuk keempat seri obligasi global ini adalah 5 Januari 2021 dengan tanggal setelmen 12 Januari 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi global bond Obligasi Pemerintah pemulihan ekonomi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top