Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sektor Konstruksi Tersengat Omnibus Law, Begini Prospek Saham BUMN Karya

Kinerja BUMN karya tahun depan diperkirakan bakal pulih seiring dengan penerapan omnibus law UU Cipta Kerja. Selain itu, bujet infrastruktur yang lebih tinggi dan distribusi vaksin akan menjadi katalis utama yang mendorong kinerja sektor konstruksi pada tahun depan.
Suasana proyek pembangunan LRT (Light Right Transit) di Kawasan Kuningan, Jakarta, Sabtu (11/4/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Suasana proyek pembangunan LRT (Light Right Transit) di Kawasan Kuningan, Jakarta, Sabtu (11/4/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja emiten konstruksi, termasuk BUMN karya terlihat mulai bergeliat pada akhir tahun seiring dengan kontrak baru yang menebal. Analis pun memperkirakan pemulihan bertahap sektor konstruksi bakal berlanjut hingga 2021, dipicu pengesahan omnibus law Undang-undang Cipta Kerja.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael menyebut selain efek omnibus law, bujet infrastruktur yang lebih tinggi dan distribusi vaksin akan menjadi katalis utama yang mendorong kinerja sektor konstruksi pada tahun depan.

“Di luar reli harga saham yang signifikan dalam beberapa bulan, kami tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor konstruksi,” tulis Joshua dalam riset yang dipublikasikan lewat Bloomberg, dikutip Selasa (8/12/2020).

Adapun, pemerintah akan menggelontorkan belanja infrastruktur senilai Rp414 triliun pada 2021 atau naik sekitar 47 persen dari anggaran pada 2020.

Selanjutnya, katalis positif juga datang dari pembentukan Sovereign Wealth Fund bernama Nusantara Investment Authority (NIA) sebagai produk turunan dari UU Cipta Kerja.

SWF ini diharapkan bakal memberi kejelasan dalam divestasi aset infrastruktur di masa depan. Dengan demikian, perusahaan kontraktor pelat merah khususnya PT Waskita Karya (Persero) Tbk. bakal diuntungkan karena memiliki aset jalan tol terbanyak.

Selain SWF, sejumlah aturan turunan dari Omnibus Law seperti prosedur pembelian tanah, agensi land bank, hingga kemudahan berusaha juga akan mendorong performa perusahaan konstruksi.

“Kami memperkirakan kontrak baru agregat [dari BUMN Karya] dan order book masing-masing tumbuh 20 persen - 25 persen dan 5 persen - 10 persen secara tahunan [pada 2021],” tulis Joshua.

Namun demikian, nada optimisme yang disuarakan Mirae Asset Sekuritas tersebut tetap memiliki tantangan utamanya dari pandemi Covid-19 yang berkepanjangan hingga eksekusi proyek yang lambat.

Joshua pun memilih saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) dan saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk. sebagai top picks rekomendasi saham hingga tahun depan.

WSKT diberi target harga senilai RP1.300 per saham dan ADHI dengan target harga Rp1.500 per saham. Saham PT PP (Persero) Tbk. juga diberi rekomendasi beli dengan target harga Rp1.800 per saham. Sementara saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. diberi rekomendasi tahan dengan target harga Rp1.800 per saham.

Di lantai bursa, seluruh saham BUMN Karya kompak melemah. WSKT turun 1,67 persen menjadi Rp1.180 per saham, WIKA melemah 3,50 persen menjadi Rp1.790 per saham, PTPP turun 3,60 persen menjadi Rp1.605 per saham, dan ADHI turun 2,30 persen menjadi Rp1.275 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper