Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemangkasan Suku Bunga Acuan BI Bak Pisau Bermata Dua Bagi Reksa Dana

Tim analis Infovesta Utama mengatakan reksa dana berbasis pendapatan tetap akan diuntungkan dalam hal ini karena harga obligasi menguat apabila terjadi penurunan suku bunga.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 23 November 2020  |  14:57 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pemangkasan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps ke level 3,75 persen dianggap sebagai pisau bermata dua bagi industri reksa dana. Pasalnya, beberapa jenis reksa dana mendapatkan keuntungan dan kerugian akibat dari kebijakan tersebut.

Tim analis Infovesta Utama mengatakan reksa dana berbasis pendapatan tetap akan diuntungkan dalam hal ini karena harga obligasi menguat apabila terjadi penurunan suku bunga.

Sebagai informasi, penurunan suku bunga acuan pada pekan lalu terjadi untuk yang kelima kalinya pada tahun ini dengan total 125 bps dan tercatat sebagai level terendah baru setelah sebelumnya dari bulan Agustus hingga Oktober bertahan di level 4 persen.

Sementara, kinerja reksa dana pendapatan tetap melalui infovesta 90 fixed income fund index per 20 November lalu tercatat memberikan imbal hasil sebesar 8,24 persen secara year to date.

Angka ini jelas jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jenis reksa dana saham dan reksa dana campuran yang masih mencatatkan kinerja negatif.

“Di lain sisi, pemangkasan suku bunga acuan ini juga dapat membatasi pergerakan kinerja reksa dana pasar uang,” tulis tim riset dalam publikasinya, Senin (23/11/2020).

Hal ini juga dikarenakan imbal hasil yang ditawarkan dari produk investasi seperti deposito menjadi lebih rendah.

Meskipun demikian, reksa dana pasar uang masih diminati oleh para investor yang ditunjukkan melalui peningkatan tertinggi pada unit penyertaan reksa dana pasar uang pada bulan Oktober lalu sebesar Rp10,15 miliar.

“Ini membuktikan bahwa investor masih percaya dengan jenis reksa dana yang menawarkan “keamanan” walaupun dengan imbal hasil yang lebih terbatas,” tutur tim riset kemudian.

Penurunan tingkat suku bunga ini juga diharapkan dapat mendukung kinerja reksa dana berbasis saham, mengingat apabila ekonomi dapat segera pulih dan bisnis berjalan dengan lancar, maka ini dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham terutama untuk sektor perbankan.

Pemulihan ekonomi sebenarnya tercermin melalui Indeks Harga Saham Gabungan selama bulan November yang telah mengalami penguatan sebesar 8,65 persen ke level 5.571.

Dengan beragam stimulus yang secara agresif diberikan oleh pemerintah serta vaksin Covid-19 yang masih dinantikan, maka diharapkan dapat membantu ekonomi untuk segera pulih sehingga dapat mendorong kinerja pasar saham lebih baik lagi.

Oleh karena itu, investor dapat mempertimbangkan untuk meningkatkan profil risikonya dengan menambah posisi pada reksa dana saham seiring dengan ekspektasi perbaikan earnings perusahaan dan potensi window dressing yang akan dilakukan pada bulan Desember mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham suku bunga acuan reksa dana
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top