Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Reksa Dana Syariah Tumbuh Pesat Tahun Ini, Apa Sebabnya?

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Oktober 2020, asset under management (AUM) reksa dana syariah telah mencapai Rp71,65 triliun, tumbuh 33,32 persen secara year to date.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 19 November 2020  |  19:26 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja sebagian aset underlying reksa dana syariah yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan efek konvensional serta literasi masyarakat yang meningkat membuat industri reksa dana kian bertumbuh sepanjang tahun ini.
 
Secara dana kelolaan, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Oktober 2020, asset under management (AUM) reksa dana syariah telah mencapai Rp71,65 triliun, tumbuh 33,32 persen dibandingkan dengan posisi akhir 2019 lalu yang sebesar Rp53,74 triliun.
 
Pertumbuhan AUM reksa dana syariah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan reksa dana konvensional yang malah menyusut dalam periode yang sama, yakni dari Rp488,46 triliun menjadi Rp458,21 triliun.

Porsi dana kelolaan reksa dana syariah terhadap total AUM industri reksa dana juga meningkat. Per akhir Desember 2019 lalu kontribusi reksa dana syariah terhadap total AUM industri sebesar 9,91 persen, sedangkan per akhir Oktober 2020 telah menjadi 13,52 persen.
 
Dari jumlah produk, pilihan produk reksa dana syariah juga terus bertambah. Per Oktober 2020 ada 284 produk reksa dana syariah yang terdaftar, naik dari jumlah per akhir 2019 yang sebanyak 265 produk.
 
Secara kinerja, sebagian indeks reksa dana syariah juga mengungguli kinerja reksa dana konvensional.

Seperti indeks RD pasar uang syariah (Infovesta Sharia Money Market Fund Index) yang mencetak imbal hasil 4,25 persen secara year to date, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan indeks RD pasar uang konvensional (Infovesta 90 Money Market Fund Index) 4,22 persen.
 
Sementara untuk RD pendapatan tetap syariah tak terpaut jauh dengan RD pendapatan konvensional. RD pendapatan syariah membukukan kinerja ytd 8,06 persen sedangkan RD pendapatan tetap konvensional 8,20 persen.
 
Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan ada dua pendorong pertumbuhan industri reksa dana syariah yakni kinerja aset underlying reksa dana syariah dan minat masyarakat yang memang semakin tinggi.

Dari sisi kinerja, Wawan menyebut kinerja sukuk yang moncer sepanjang tahun ini membuat dana kelolaan reksa dana syariah, terutama reksa dana pasar uang dan reksa dana terproteksi turut melambung.
 
“Pendapatan tetap juga awalnya sama tapi sekarang turun sedikit, paling tingginya masih di terproteksi,” ujar Wawan ketika dihubungi Bisnis, Kamis (19/11/2020).
 
Kemudian, jumlah produk reksa dana syariah yang bertambah pada tahun ini juga secara otomatis membuat dana kelolaan bertambah, melalui pembelian unit produk-produk baru tersebut.
 
Di sisi lain, dia menilai minat masyarakat terhadap produk reksa dana syariah terus meningkat seiring dengan semakin maraknya literasi mengenai produk pasar modal berbasis syariah. Ditambah, kondisi pandemi yang memang membuat minat terhadap reksa dana secara keseluruhan tengah naik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK reksa dana dana kelolaan reksa dana syariah
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top