Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penurunan Bunga Acuan Bisa Bikin Kinerja Reksa Dana Pendapatan Makin Moncer

Pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pekan lalu, Bank Sentral memutuskan untuk memangkas BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 22 November 2020  |  13:29 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia diyakini bakal mendorong kinerja pasar obligasi. Sejalan dengan hal tersebut, prospek reksa dana pendapatan juga diramal terus moncer.

Sebagaimana diketahui, pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan lalu, Bank Sentral memutuskan untuk memangkas BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen.

Adapun sepanjang tahun ini BI telah lima kali melakukan penurunan suku bunga acuan dengan total pemangkasan sebanyak 125 bps atau 1,25 persen.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan keputusan BI untuk menurunkan suku bunga jelang akhir tahun sudah diprediksi oleh pasar, terlihat dari penurunan yield obligasi sebulan terakhir.

Berdasarkan data worldgovernmentbonds.com, per penutupan pasar Jumat (21/11/2020) lalu, yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun yang menjadi acuan ada di level 6,26 persen. Pun, dalam sebulan terakhir yield telah turun 44 bps.

Imbal hasil atau yield SBN selalu berjalan bersebrangan dengan harga obligasi. Penurunan yield mencerminkan harga obligasi sedang menguat di pasar, begitu pun sebaliknya.

Wawan memperkirakan yield SBN 10 tahun akan terus bergerak dalam tren penurunan dalam jangka pendek hingga menengah. Pasalnya, ruang atau spread antara level yield dengan level suku bunga saat ini masih sangat lebar.

“Harga obligasi masih sangat murah kalau masih di level segitu. Itu [yield] akan turun terus karena akan menyesuaikan dengan spread yang wajarnya berapa,” kata Wawan ketika dihubungi Bisnis, akhir pekan lalu.

Dia menilai dengan posisi yield saat ini yang ada di sekitar level 6,25 persen dan suku bunga di 3,75 persen, posisi spread yang wajar adalah sekitar 200 bps atau 2 persen, sehingga potensi yield menguat ke level 5,75 persen hingga 6 persen masih terbuka.

Sebagai catatan, dalam lima tahun terakhir yield SBN tenor 10 tahun belum pernah tembus ke level di bawah 6,00 persen. Paling rendah, yield SBN terakhir kali menyentuh 6,06 persen, yakni pada 12 Januari 2018 silam.

Lebih lanjut, dia mengatakan dengan adanya potensi penurunan yield yang berarti penguatan harga obligasi tersebut, maka reksa dana pendapatan tetap masih akan sangat prospektif dari sisi kinerja.

“Sampai akhir tahun nanti, mungkin sampai kuartal I tahun depan [reksa dana pendapatan tetap] tetap masih akan menarik karena potensi upside-nya masih sangat besar sementara risiko untuk dia turun akan kecil sekali,” tuturnya.

Wawan juga meyakini penurunan suku bunga acuan jelang akhir tahun ini akan memantapkan kinerja reksa dana pendapatan tetap untuk periode setahun penuh di 2020 mencapai rata-rata 8 persen di penghujung Desember mendatang.

“Saya rasa full year kinerja rata-ratanya tembus 8 persen sangat mungkin,” pungkas dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi bank indonesia suku bunga acuan reksa dana yield obligasi
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top