Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

UOB Asset Management Indonesia Apresiasi Perubahan Konstituen Indeks Bisnis-27

UOB Asset Management Indonesia menilai rebalancing pada Indeks Bisnis-27 dapat memberikan manfaat diversifikasi portofolio yang lebih baik. 
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 Oktober 2020  |  09:27 WIB
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (6/10/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (6/10/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – UOB Asset Management Indonesia menyambut baik perubahan konstituen indeks Bisnis-27 yang akan mulai berlaku pada 1 November 2020 mendatang.

Chief Investment Officer UOB Asset Management Indonesia Albert Budiman mengatakan pihaknya melihat bahwa proses rebalancing pada Indeks Bisnis-27 dapat memberikan manfaat diversifikasi portofolio yang lebih baik. 

Ini terlihat dari penambahan saham industri agrikultur seperti PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) yang kembali menjadi menjadi anggota indeks. Dia menilai perbaikan ekonomi globalmembuat ekspektasi terhadap permintaan CPO (crude palm oil) juga meningkat. 

“Ditambah apabila benar prediksi bahwa La Nina terjadi dalam beberapa bulan kedepan, ini tentunya dapat mempengaruhi produksi CPO, dan menyebabkan supply CPO turun secara global,” terang Albert kepada Bisnis, Jumat (23/10/2020).

Di sisi lain, UOB Asset Management Indonesia juga melihat inklusi saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dapat memberikan keuntungan diversifikasi bila dilihat dari sisi proksi harga emas dunia secara tidak langsung.

Melihat tingkat volatilitas pasar yang sedang tinggi seperti saat ini, dimana semua negara mengalami defisit akibat dari stimulus fiskal secara masif, alternatif investasi pada proksi emas dianggap menjadi salah satu alternatif tujuan investor sebagai perlindungan dari fluktuasi nilai mata uang.

“Bila kita mengkaji saham-saham yang dikeluarkan dari indeks Bisnis-27, kami melihat beberapa nama saham yang mempunyai tantangan cukup berat dalam waktu dekat seperti salah satunya industri rokok,” terangnya.

Perusahaan rokok, lanjut Albert, terpengaruh oleh melemahnya daya beli konsumer, antisipasi beralihnya konsumsi rokok ke tipe atau brand yang lebih murah dan rencana pemerintah untuk menaikkan cukai rokok pada 2021 yang akan membuat sentimen pergerakan saham rokok akan menjadi terbatas dalam waktu dekat.

“Secara keseluruhan kami melihat saham yang masuk merupakan saham yang mempunyai market cap besar (big cap), walaupun market cap saham-saham yang saat ini masuk lebih rendah bila dibandingkan dengan market cap saham-saham yang dikeluarkan pada rebalancing terakhir ini,” sambungnya.

Namun menurutnya hal ini tidak akan menjadi masalah mengingat tingkat likuiditas dari setiap saham di indeks Bisnis-27 sangat likuid dan dari memiliki fundamental juga yang masih dalam kondisi sangat baik.

Dengan dibukanya kembali aktivitas ekonomi Indonesia saat ini, UOB Asset Management Indonesia menilai investasi di saham perusahaan yang berkualitas baik menjadi hal yang sangat penting.

Alhasil, indeks Bisnis-27 merefleksikan kondisi yang terbaik dari perusahaan yang tercatat di bursa yang dapat melewati situasi krisis bahkan diantaranya mampu tumbuh lebih baik disaat pandemi.

Untuk diketahui, UOB Asset Management Indonesia memiliki produk reksa dana UOBAM Indeks Bisnis-27. Berdasarkan data Infovesta, imbal hasil dari reksa dana tersebut secara bulanan terpantau positif dengan penguatan sebesar 2,66 persen meski masih terkoreksi 20,34 persen secara tahunan.

Untuk diketahui, berdasarkan rapat komite yang digelar pada Kamis (22/10/2020), indeks Bisnis-27 kedatangan lima emiten baru yakni PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk. (BTPS), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO).

Dengan demikian, konstituen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP), PT Gudang Garam Tbk. (GGRM), PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk.(TKIM) didepak dari jajaran anggota indeks.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks bisnis27
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top