Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rights Issue Bisa Jadi Pilihan BRISyariah (BRIS) untuk Penuhi Ketentuan Free Float

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan mengatakan penerbitan saham melalui right issue menjadi opsi yang paling memungkinkan bagi perseroan untuk menambah kepemilikan publik dan memenuhi aturan Bursa Efek Indonesia yang mengharuskan free float minimal mencapai 7,5 persen. 
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  19:53 WIB
Kantor BRIsyariah - brisyariah.co.id
Kantor BRIsyariah - brisyariah.co.id

Bisnis.com, JAKARTA — Aksi korporasi berupa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dapat menjadi pilihan bagi PT BRI Syariah Tbk. (BRIS) agar tetap dapat memenuhi ketentuan free float.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan mengatakan penerbitan saham melalui rights issue menjadi opsi yang paling memungkinkan bagi perseroan untuk menambah kepemilikan publik dan memenuhi aturan Bursa Efek Indonesia yang mengharuskan free float minimal mencapai 7,5 persen. 

“Dengan menambah saham baru dan melepasnya ke publik tentu akan menaikkan free float tersebut ya,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (23/10/2020).

Adapun, pilihan lain yang biasanya ditempuh untuk memenuhi ketentuan free float adalah dengan menerbitkan saham dalam rangka Management Stock Option Program (MSOP) ataupun Employee Stock Option Program (ESOP).

“Tapi kan sepertinya belum ada kabar mengenai itu ya, proses mergernya pun masih menunggu otoritas,” katanya. 

Terpisah, Direktur PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan bursa akan memberikan waktu bagi perusahaan terbuka yang berada di bawah ketentuan free float atau kepemilikan saham publik di bawah 7,5 persen. 

“Diberi waktu, lalu di-review berkala sampai mencapai 7,5 persen untuk perusahaan terbuka. [Selama periode iiu] bisa saja mereka keluarin saham buat MSOP, ESOP, ataupun rights issue buat publik agar [free float] 7,5 persen itu tercapai,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (23/10/2020).

Seperti diketahui, pada Rabu (21/10/2020) lalu telah diumumkan skema merger bank syariah badan usaha milik negara (BUMN), yang mana BRIS menjadi satu-satunya perusahaan terbuka di antara tiga perusahaan yang dilebur. 

Proses merger akan melalui peningkatan modal dasar surviving entity, Bank BRIsyariah, dengan mengkonversi saham dua perbankan yang digabung yakni PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS).

Berdasarkan posisi per 30 Juni 2020, jumlah saham beredar BRIS sebanyak 9,71 miliar lembar. Jumlah itu akan bertambahan menjadi 40,84 miliar pada tanggal efektif penggabungan.

Dengan demikian, BRIS akan melakukan penerbitan saham baru sebanyak 31,13 miliar lembar. Ketika penggabungan, BRIS akan tetap menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Setelah merger, kepemilikan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) di BRIS akan terdilusi dari 73,00 persen menjadi 17,4 persen. Selanjutnya, kepemilikan masyarakat menciut dari 18,47 persen menjadi 4,4 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

brisyariah right issue
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top