Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

SWF Jadi Sentimen Positif, Analis Belum Beri Rekomendasi Beli Waskita Karya (WSKT)

Analis merekomendasikan sell on strength saham berkode WSKT tersebut karena dampak pandemi masih akan membayangi fundamental perseroan dalam jangka pendek.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 21 Oktober 2020  |  15:45 WIB
Gerbang Tol Brebes Barat, Jalan Tol Pejagan-Pemalang. Jalan tol ini sepanjang 57,5 kilometer ini dikelola oleh PT Pejagan Pemalang Toll Road. Jalan tol ini juga merupakan 1 dari 18 ruas tol yang konsesinya dimiliki Waskita Karya. - wtr.co.id
Gerbang Tol Brebes Barat, Jalan Tol Pejagan-Pemalang. Jalan tol ini sepanjang 57,5 kilometer ini dikelola oleh PT Pejagan Pemalang Toll Road. Jalan tol ini juga merupakan 1 dari 18 ruas tol yang konsesinya dimiliki Waskita Karya. - wtr.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. belum direkomendaiskan beli walaupun prospeknya dalam jangka panjang cukup menjanjikan.

Analis merekomendasikan sell on strength saham berkode WSKT tersebut karena dampak pandemi masih akan membayangi fundamental perseroan dalam jangka pendek.

Kepala Riset dan Strategi J.P. Morgan Sekuritas Indonesia Henry Wibowo menuliskan dalam riset terbarunya bahwa pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) bakal menguntungkan WSKT nantinya.

Namun, saat ini manajemen WSKT disebut belum memperhitungkan faktor SWF ke dalam pipeline divestasi karena pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) itu sendiri masih tahap awal. 

“Kami tetap underweight untuk WSKT dan menyarankan investor melakukan sell on strength karena kami yakin tekanan jangka pendek masih ada, berasal dari dampak Covid-19 yang melemahkan fundamental perseroan,” tulis Henry, seperti dikutip pada Rabu (21/10/2020).

Adapun, pembentukan SWF merupakan katalis kunci untuk asset recycle jalan tol dan dapat menjadi sumber pendanaan baru untuk proyek greenfield yang biasa dikerjakan kontraktor pelat merah.

Henry pun menyebut SWF nantinya bakal menguntungkan WSKT dan saudaranya yaitu PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) dalam hal deleveraging keuangan.

“Pada tahap ini [pembentukan SWF], kami condong memilih JSMR daripada WSKT karena JSMR memiliki deleveraging yang lebih tidak ketergantungan,” tulis Henry sambil menambahkan bahwa aset JSMR lebih berkualitas tinggi dan akan menarik minat investor.

Adapun, dari pertemuan dengan manajemen WSKT, Henry menunjukkan bahwa emiten kontraktor pelat merah tersebut telah mengantisipasi rugi bersih senilai Rp1,5 triliun tahun ini. Nilai tersebut sudah memasukkan pendapatan divestasi sekitar Rp1,2 triliun.

Sebelumnya, WSKT sempat menerima pembayaran dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) senilai Rp3,4 triliun yang akan digunakan untuk pembebasan lahan proyek berikutnya.

WSKT pun disebut berupaya menjaga neraca keuangan karena fokus bujet LMAN pada tahun ini telah dipindahkan untuk menangani Covid-19.

Lebih lanjut, penerimaan WSKT yang berkurang tahun ini dikhawatirkan bakal menimbulkan tekanan jangka pendek.

Henry memberikan peringkat underweight untuk saham WSKT dengan target harga hingga Desember 2021 senilai Rp420 per saham.

Pada akhir perdagangan Rabu (21/10/2020), WSKT ditutup menguat 7,69 persen menjadi Rp770 per saham. Selama sebulan terakhir, WSKT melesat 50,98 dengan kapitalisasi pasar Rp10,45 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

waskita karya rekomendasi saham sovereign wealth fund
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top