Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gonjang-ganjing UU Cipta Kerja Gak Bikin Goyah, Rupiah Menguat 1 Persen Pekan Ini

Pergerakan rupiah ini tak lepas dari laju indeks dolar AS yang cukup fluktuatif namun dalam tren melemah pekan ini, menyusul perkembangan dari rencana stimulus fiskal pemerintah AS.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 09 Oktober 2020  |  11:17 WIB
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Perkembangan situasi di dalam negeri tidak cukup mengekang keperkasaan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pekan ini.

Hingga pukul 10.15 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau menguat 12 poin atau 0,09 persen ke level Rp14.697 per dolar AS. Ini merupakan penguatan rupiah ke-4 dalam lima hari perdagangan terakhir.

Adapun sepanjang pekan ini, rupiah telah menguat hingga 1,13 persen dari level penutupan perdagangan Jumat (2/10/2020) di posisi Rp14.865 per dolar AS.

Rupiah pun bahkan tidak goyah pada perdagangan kemarin, meskipun terjadi demonstrasi buruh menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja, yang berakhir rusuh.

Pergerakan rupiah ini tak lepas dari laju indeks dolar AS yang cukup fluktuatif, namun dalam tren melemah pekan ini. Indeks yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama ini terpantau melemah 0,17 poin atau 0,18 persen ke level 93,43 pada pukul 10.40 WIB hari ini.

Adapun sepanjang pekan ini, indeks dolar AS telah melemah hingga 0,43 persen.

Rupiah sempat berbaik melemah pada awal perdagangan kemarin ke level Rp14.725 per dolar AS, di saat indeks dolar bergerak menguat ke level 93,633. Namun, dolar AS kembali melandai dan rupiah ditutup stagnan.

Adapun, penguatan indeks dolar kemarin merupakan respons dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meminta kongres menghentikan perundingan stimulus senilai US$2,2 triliun hingga pemilihan presiden pada 3 November mendatang.

Namun, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa stimulus diperlukan untuk memastikan pertumbuhan ekonomio AS yang kuat, sehingga dolar AS kembali melandai.

Kini, sikap Trump terhadap stimulus fiskal berubah. Trump mengatakan ada kemajuan dalam pembicaraan meskipun kedua partai di parlemen terlihat masih jauh dari kata sepakat.

Perubahan sikap Trump tersebut membuat investor lari dari dolar AS sebagai safe haven dan bergegas menuju pasar saham. Pada Kamis, ketiga indeks utama bursa AS kompak ditutup menguat.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,43 persen ke level 5.039,14. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,8 persen ke level 3.446,83 dan indeks Nasdaq Composite naik 0,5 persen ke 11.420,98.

Larinya investor dari dolar AS ke pasar saham ditengarai juga disebabkan oleh ekspektasi terhadap kemenangan Joe Biden dalam pilpres dan Partai Demokrat di Kongres dalam pemilu November.

Kemenangan Biden dan Partai Demokrat dipandang menjadi hal positif karena setiap kebijakan pemerintah AS akan lebih mudah digulirkan. Adapun pada pemerintahan Trump saat ini, pemerintah sulit meloloskan kebijakan karena terganjal di Senat yang mayoritas diduduki orang partai Demokrat.

Pelemahan dolar menjadi angin segar bagi mata uang Asia yang mayoritas menguat. Penguatan dipimpin oleh dolar Taiwan sebesar 0,72 persen. Kemudian disusul won Korea yang menguat 0,53 persen.

Sebelumnya, Direktur strategi portofolio di EP Wealth Advisors Adam Phillips mengatakan bahwa investor cenderung optimistis terhadap peluncuran stimulus fiskal dari Pemerintahan AS yang telah dinantikan lama.

Pasalnya, dalam beberapa bulan terakhir perundingan stimulus tersebut tampak buntu kendati data ekonomi AS terus menunjukkan pelemahan.

Penggelontoran stimulus fiskal tersebut akan mengurangi minat investor terhadap dolar AS sebagai aset safe haven sehingga memungkinkan investor berpihak terhadap aset berisiko, seperti mata uang pasar berkembang.

“Karena, semakin sulit untuk menolak kebutuhan akan dukungan fiskal tambahan saat ini,” tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (6/10/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top